Mengenal jenis penyakit pada kelapa sawit

PENYAKIT kelapa sawit yang tak bisa dianggap enteng adalah Crown Disease atau penyakit Tajuk yang kerap disebut juga dengan penyakit Mahkota.

Umumnya menyerang kebun berusia 1-3 tahun setelah penanaman di lapang. Uniknya, setelah itu penyakit sembuh dengan sendirinya dan bekas tanaman yang sakit berkembang seperti tanaman biasa.

Selain tidak menular, penyakit Tajuk juga belum diketahui penyebabnya, kata Haryono Semangun. Gejalanuya pada tanaman muda yang sakit mempunyai banyak daun yang membengkak ke bawah di tengah pelepahnya.

Pada bengkokan ini terdapat anak daun atau anak daunnya kecil atau robek-robek.

Gejala ini, jelas Haryono, mulai nampak pada janur. Di sini anak-anak daun yang masih terlipat itu tampak busuk pada sudut atau tengahnya. Untuk sementara tanaman terhambat pertumbuhannya, tetapi kelak akan sembuh dengan sendirinya.

Kendati demikian, adakalanya tanaman yang sudah sembuh tadi menjadi sakit kembali yang nantinya akan sembuh lagi, begitulah seterusnya.

Karena adanya jamur pada bagian yang membusuk pada tanaman yang sakit Tajuk, ada yang berusaha menyembuhkannya dengan memakai fungisida.

Namun karena masih diragukan bahwa jamur yang menyebabkan penyakit ini, pengobatan dengan fungisida memberikan hasil yang tidak menentu.

Sebelum diobati, janur dipotong sedalam mungkin. (Sedekat mungkin dengan titik tumbuh). Bagian yang terbuka disemperot dengan fungisuda sampah basah benar. Pada pemotongan tadi hanya janur yang belum membuka yang dibuang.

Daun-daun yang sakit tak perlu dipotong, karena perkembangan jamur akan berhenti jika janur membuka.

Bahkan pemotongan ini akan menyebabkan tanaman muda yang sakit kehilangan banyak jaringan yang dapat mengadakan asimilasi yang sangat diperlukannya.

Fungisida dipakai, kata Haryono, untuk keperluan ini Thiabendazole 9,1%, Thiram 9,2% atau Benomyl 0,1% (Turner, 1973).

Di samping penyakit-penyakit yang sudah diuraikan, masih ada beberapa penyakit kelapa sawit di Indonesia, yang dinilai kurang penting tapi perlu diketahui dengan seksama. Di antaranya:

· Jamur Akar Putih. Kadang-kadang membentuk badan buah pada pangkal pelepah daun-daun bawah tanaman kelapa sawit muda yang ditanam di bekas kebun karet.

Berbeda dengan karet, pada kelapa sawit jamur ini tidak merugikan, bahkan perkembangannya hanya terbatas pada puntung-puntung pelepah pada pangkal batang dan tidak mengadakan penetrasi ke dalam batang.

· Penyakit Layu Pucuk (Withertip). Karena ada infeksi pada janur sehingga terjadi terjadi pembusukan dan perubahan bentuk pada daun-daun kelapa sawit dewasa.

Pohon yang sakit layu pucuk mudah dikenal karena daun-daunnya cenderung tegak. Bagian ujung daun tidak mempunyai anak daun atau hanya memiliki anak daun yang pendek.

Gangguan mulai terjadi pada janur sebelah ujung dan seringkali janur patah pada jarak yang berbeda-beda dari ujung janur.

Jika ini terjadi maka jaringan yang terserang akan tergantung dan akhirnya jatuh.

Pohon yang menunjukkan gejala layu pucuk sebaiknya diracun dan dibongkar karena pohon ini tidak memberikan hasil.

Setelah diracun pohon dibongkar dan dibiarkan membusuk di antara barisan. Jika dibiarkan tetap berdiri setelah diracun, pohon tadi mungkin dapat menjadi sumber infeksi ganoderma.

Pada daun-daun tua tanaman dewasa selalu terdapat becak-becak daun yang disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis.

Mula-mulai pada dedaunan tua jamur membentuk becak-becak kecil berwarna cokelat atau cokelat ungu.

Becak membesar, pusatnya mengering, berwarna cokelat muda atau kelabu, seringkali dengan batas yang berwarna cokelat tua.

Bagian-bagian tengah becak mempunyai titik-titik hitam yang terdiri dari badan buah (Aservulus) jamur yang membentuk konidium berambut (Seta). Becak-becak yang berdekatan bersatu sehingga membentuk becak yang sangat besar.

Karena hanya menyerang dedauan tua, penyakit tak menimbulkan kerugian yang berarti, sehingga tidak dilakukaan usaha yang khusus untuk mengendalikannya.

Pada permukaan atas daun-daun tua sering terdapat becak-becak berwarna cokelat kemerahan yang terdiri dari koloni ganggang hijau Cephaleuros Virescens Kunze. Ganggang ini tak perlu dikendalikan karena tidak menimbulkan kerugian yang berarti.

Cephaleuros terdapat pada daun-daun tua dari tanaman teh, kakao, cengkeh, alpukat dan lain sebagainya.

Lihat juga : Penyakit kelapa sawit

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!