Padang Bulan

Dalam dua bulan terakhir, saya membaca tujuh novel karangan penulis Indonesia. Lima novel baru dan dua novel yang sebenarnya sudah terbit lama, tapi baru diindonesiakan. Tapi, dari sekian banyak novel itu, saya harus jujur mengatakan bahwa tak ada penulis cerita fiktif yang punya daya pukau macam ANDREA HIRATA.

Sukses dengan tetralogi LASKAR PELANGI, SANG PEMIMPI, EDENSOR, dan MARYAMAH KARPOV, Andrea Hirata kembali menghibur kita dengan PADANG BULAN. Dalam sebuah buku ada dua novel, yakni PADANG BULAN SENDIRI dan CINTA DI DALAM GELAS.



Seperti empat novel seri LASKAR PELANGI, saya pun menyelesaikan dua novel satu buku terbitan Bentang, 2010, ini dengan sangat cepat. Kalimat-kalimat Andrea Hirata punya daya sihir yang luar biasa. Setelah membaca satu kalimat, kita dirangsang membaca deretan kalimat-kalimat lain. Habis satu halaman, pindah ke halaman lain. Lalu, menuntaskan bab demi bab sampai tamat uraian penulis asal Belitong itu.

Begitu banyak penulis, sastrawan, novelis, cerpenis... di negeri ini. Tapi, buat saya, sangat jarang ada penulis fiksi jenius macam Andrea Hirata. Kata-katanya tidak berbelit-belit, ndakik-ndakik, menggurui, kecam sana-sini, berkhotbah, sok tahu...

Di PADANG BULAN, seperti tetralogi LASKAR PELANGI, Andrea mengambil cerita sederhana dari kampung halamannya di Tanjongpandan, Belitong. Tentang kebiasaan orang-orang Melayu yang doyan cangkrukan di warung kopi, bicara ngalor-ngidul, menjelek-jelekkan pemerintah hehehe... Tentang jenis kopi yang bermacam-macam.

Saya tergelitik dengan deskripsi KOPI MISKIN: kopi tanpa gula untuk konsumsi orang miskin karena harga gula pasir di Belitong mahal. "Kopi miskin adalah kopi pahit, sepahit-pahitnya, seperti nasib pembelinya," tulis Andrea Hirata di halaman 155 novel CINTA DI DALAM GELAS.

Sang Paman secara diam-diam menyuruh Andrea, yang bekerja bekerja di warung kopi milik paman, untuk menambahkan sedikit gula. Agar kopi miskin tadi tidak terlalu pahit. Eh, ternyata pembeli melarat malah tak suka hal itu. Maka, Andrea Hirata pun menemukan pelajaran moral nomor 22:

Kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin!

Humor-humor segar, pelajaran moral ala orang kampung Belitong, membuat saya tertawa sendiri saat menikmati novel-novel Andrea Hirata. Kemampuan menertawakan diri sendiri, kaum sendiri, golongan sendiri... inilah kelebihan Bung Andrea Hirata. Beda banget dengan beberapa novel lain yang saya baca dalam dua bulan terakhir yang isinya banyak menertawakan, bahkan melecehkan orang lain, yang tidak sepaham.

Di novel perdananya yang fenomenal itu, LASKAR PELANGI, Andrea Hirata pernah membuat deskripsi tentang orang cerdas, jenius. Di halaman 113 LASKAR PELANGI Andrea Hirata menulis begini:

Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bodoh daripada orang yang paling bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas.

Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar.

Ada orang yang memiliki kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis.

Ada juga yang cerdas, tapi berpura-pura bodoh. Dan lebih banyak lagi yang bodoh, tapi berpura-pura cerdas."

Membaca enam novel karangan Andrea Hirata, mulai LASKAR PELANGI hingga CINTA DI DALAM GELAS, tak syak lagi bahwa Andrea Hirata memang penulis cerdas. Dia tipe penulis yang mampu menjelaskan konsep-konsep rumit dalam bahasa sederhana. Mampu menghadirkan novel yang dahsyat hanya berbekal cerita-cerita masa anak-anak serta pengalaman orang-orang sederhana di Belitong.

Novel PADAGANG BULAN berangkat dari cerita sederhana di Belitong. Maryamah, seorang perempuan kampung yang bertekad melampiaskan dendam dengan mengalahkan jawara catur di desa. Sang jawara itu, namanya Matarom, tak lain laki-laki yang pernah sangat menyakiti dirinya. Maka, dia belajar keras teknik permainan catur melalui Ikal [Andrea Hirata] yang online langsung dengan grandmaster Ninochka Stronovsky.

Happy ending! Kita pun puas karena begundal-begundal Belitong pun akhirnya takluk di tangan wanita pecatur yang mengenakan burkak selama pertandingan. Andrea Hirata menulis dengan gaya khasnya untuk merayakan kemenangan Maryamah:

Matarom tersandar lemas di kursinya dengan mata nanar. Sabuk emas yang melilit pinggangnya selama dua tahun terlepas sudah. Karmanya telah terhemas di atas papan catur perak yang selalu diagung-agungkannya.

Andrea Hirata memang benar-benar fenomenal. Tanpa pernah menyebut dirinya sebagai sastrawan, novelis, atau budayawan, dia menggebrak jagat sastra Indonesia dengan enam novel sekaligus yang bikin kita semua tercengang kagum.

Sobat perlu baca yang ini juga:

4 komentar:

  • Info Seputar Wanita

    Hello Dion, link udah terpasang, trimakasih ya...

    jawab
  • dion

    sama2. . .terus berkarir y moga sukses,tapi law dah sukses jgan lupa di kita orang. . . hehehe

    jawab
  • Nova Maya Sari

    saya juga suka dengan karya2 andrea hirata...
    ceritanya bagus. tp 2 novel setelah tetralogi laskar pelangi belum ada baca.
    jd penasaran saya. haha :D
    ni saya juga ada posting ttg novel2 andrea sob
    http://nova-maya.blogspot.com/2011/03/andrea-hirata-dan-karya-karyanya.html

    jawab
  • dion

    iya...karyanya inspiratif banget....
    thanks ya dah mampir,saya juga udah sempatkan mampir tadi di tempatmu sobat...

    jawab
  • Posting Komentar

    silahkan tinggalkan pesan !!!