Orang Miskin Dilarang Sekolah!


Orang Miskin Dilarang Sekolah!

Demikian judul buku karya Eko Prasetyo, terbitan Resist Book, Jogjakarta, 2004. Dalam buku 256 halaman itu, Eko mengupas praktik komersialisasi pendidikan kita. Jangankan keluarga miskin, PNS, karyawan swasta, pun ngos-ngosan membayar biaya SD, bahkan TK, anak-anaknya. Boro-boro membiayai kuliah di Fakultas Kedokteran.

Prinsip education for all makin dikesampingkan. Amanat konstitusi, Pasal 31 UUD 1945, hanya manis di atas kertas. Yang muncul justru empat kasta pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

Kasta I: anak pintar, ortu kaya.

Merekalah orang yang paling berbahagia sejak belum dilahirkan. Mulai bayi sudah sekolah mahal di baby school. Les piano. Bahasa Inggris. Mandarin. Fashion. Ikut lomba-lomba bergengsi. Dikirim ke luar negeri untuk lomba ini-itu. Sejak zaman dulu mahasiswa Fakultas Kedokteran tergolong Kasta I.

Karena itu, tidak heran kalau hampir tidak ada orang NTT yang kuliah di kedokteran. Mau bayar pakai daun? Prek!


Kasta II: anak kurang pintar, ortu kaya.

Karena duit orang tuanya banyak, bertumpuk, anak-anak ini bisa disekolahkan di mana saja baik di dalam maupun luar negeri. Bukankah otaknya rada-rada majal?

Gampang. Banyak jalur untuk membeli tiket masuk universitas negeri dengan menyetor uang puluhan atau ratusan juta. Kasta II ini juga paling sering membeli ijazah atau nilai pada dosen atau kampus. Semua bisa diatur, asal ada UANG. Kasta II ini sangat disukai kampus-kampus karena mereka mau saja membayar mahal, berapa pun, asalkan bisa kuliah di kampus bergengsi.

Kasta III: anak pintar, ortu miskin.

Begitu banyak anak-anak berprestasi, unas tertinggi, juara lomba sains... tak bisa kuliah karena orang tua miskin. Mereka disingkirkan secara sistematis oleh sistem pendidikan yang makin kapitalistis dan money oriented. Kampus bukan lagi kumpulan calon-calon intelektual, peneliti, pemikir, melainkan para pemburu gelar bin ijazah. Banyak kampus baru di Indonesia didirikan untuk “mengakomodasi” anak-anak Kasta III ini. Tak peduli kualitas lulusan menjadi hancur-hancuran.

Kasta IV: anak kurang pintar, ortu miskin.

Paling sial dan tidak pernah bahagia. Sama dengan kasta sudra yang sangat sulit membebaskan diri dari keterpurukan struktural. Orang-orang macam ini perlu diberi pelatihan khusus oleh negara agar langsung kerja. Jadi tukang listrik, tukang kebun, tukang jahit, dan seterusnya. Jangan disuruh menguraikan teorema Phytagoras, rumus ABC, trigonometri, hukum Newton, dan seterusnya.

Sebenarnya juga ada kasta medioker atau tanggung: ortu tak kaya, tapi juga tidak bisa dibilang miskin.

Nah, dengan kasta pendidikan, yang merupakan implikasi kebijakan pemerintah, maka praktis hanya Kasta I dan II yang bisa kuliah. Kasta III, meskipun pintar, bahkan jenius, tak akan mampu membayar SPP puluhan juta. Apalagi, kuliah di Kedokteran.

Kasus Wildan Rabbani Kurniawan, peraih nilai unas tertinggi Jatim asal SMAN 1 Gresik, menjadi contoh kasus malapraktik pendidikan. Wildan jelas Kasta III. Bapaknya, Kusdaryanto, tak punya pekerjaan tetap.

Di Tiongkok, sejak era Deng Xiaoping, pemerintah punya perhatian khusus pada anak-anak jenius kayak si Wildan ini. Mereka dibiayai negara hingga doktor baik di dalam maupun luar negeri. Dus, tidak perlu ‘mengadu’ ke koran atau televisi.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!