Novel Pangeran Diponegoro


Saya baca di Kompas Minggu, 20 April 2008, bahwa novel ini hanyalah pembuka dari tujuh seri Pangeran Diponegoro yang sedang disiapkan Remy Sylado. Artinya, ceritanya bakal sangat panjang dan detail. Dan memang novel yang baru saya baca ini baru sebatas geger awal menjelang perang.

Pasukan Belanda PUKIMAK [istilah Remy] meneror Puri Tegalrejo sehingga sang pangeran meminta istrinya, Ratnaninsih, serta anak-anaknya mengungsi ke Selarong. Usia Pangeran Diponegoro baru menginjak 40. Saya belum bisa membayangkan detail-detail cerita Pangeran Diponegoro versi Remy Sylado bakal seperti apa nantinya.

Kita, orang Indonesia, niscaya pernah mendengar cerita Perang Diponegoro melalui buku-buku sejarah. Mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, cerita kepahlawanan Diponegoro alias Ontowiryo. Perangnya hanya lima tahun, tapi Belanda pukimak yang korup, gelojoh, dan takabur itu benar-benar kewalahan. Namanya juga pengarang, Remy Sylado hanya bertugas memberi daging pada cerita, kasih bumbu, komentar di sana-sini, sehingga enak dinikmati.

Bagi saya, sekali lagi, membaca tulisan-tulisan Remy Sylado berarti bertamasya dengan bahasa, kata-kata baru, sejarah musik, sejarah gereja, kebudayaan, Tionghoa, dan macam-macam lagi. Remy sengaja memberi peluang sedemikian rupa agar bisa memasukkan pengetahuan-pengetahuannya ke dalam cerita.

Dialog para tokoh sangat hidup karena dilakukan dalam bahasa aslinya. Orang Belanda omong Belanda, Jawa bicara bahasa Jawa ngaka sampai krama inggil, Tionghoa dengan Melayu cadelnya, kaki tangan Raffles yang Inggris bicara bahasa Inggris. Kutipan Alquran dan istilah-istilah Arab pun otentik. Luar biasa! Ini hanya bisa dilakukan Remy Sylado yang setahu saya menguasai belasan bahasa dunia secara aktif dan pasif.

Karena menceritakan Pangeran Diponegoro yang hendak menikah, Pak Remy memberikan tempat luas pada pernak-pernik adat pengantin Jawa. Juga kepercayaan lama di desa-desa seperti tertuang dalam primbon. Hari baik dan buruk dipaparkan secara gamblang.

Bahkan, ada pula mucikari bernama Rietje van den Berg, pelacur terkenal pada zaman Deandels. Bisnis maksiat Rietje terletak di Pakemweg [sekarang Jalan Simajuntak], 100 meter dari simpang Gondolayu [sekarang Jalan Sudirman], sebelah kanan jalan dari arah Kaliurang. Wah, detailnya luar biasa! Sama dengan kompleks pelacuran di Surabaya tempo doeloe yang digambarkan Remy Sylado di novel KEMBAN JEPUN.

Pelacur yang dikelola Mami Rietje ada enam orang. Mau tahu nama-namanya? Agnes, Monica, Cornelia, Agatha, Olga, Lydia [halaman 299]. Kok mirip nama bintang film terkenal ya? Hehehe... ada-ada saja Pak Remy Sylado alias Japi Tambajong ini. "Dalam urusan syahwat aku yang paling berkuasa atas diri penguasa itu Smissaert," hardik Mami Rietje kepada para begundal penguasa tertinggi Jogjakarta masa itu.

Begitulah. Bumbu-bumbu, komentar, akrobat pengetahuan sejarah dan bahasa sangat banyak dijumpai di novel ini. Bagi pembaca yang ingin tahu jalannya cerita, jelas bumbunya kebanyakan. Cerita yang seharusnya bisa disingkat glambyar ke mana-mana. Tapi, bagi saya, yang sudah tahu karakter Remy Sylado, novel ini sangat asyik.

NB: Novel panjang ini, juga buku-buku serta artikel-artikel Remy Sylado yang unik dan bernas itu, ternyata ditulis pakai mesin ketik biasa. Tak-tik-tak-tik-tak-tik! Sementara saya dan [mungkin] engkau yang sudah bertahun-tahun pakai komputer, lihat internet tiap hari, justru belum bisa menulis sebuah buku pun.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!