Lampung Menjadi Salah Satu Basis NII

Organisasi Negara Islam Indonesia (NII) di Provinsi Lampung ternyata masih eksis, bahkan menjadi salahsatu basis, dan tetap melakukan kegiatannya secara sembunyi-sembunyi.
Salah satu mantan aktivis NII di Lampung saat ditemui mengatakan pola perekrutan kader masih dilakukan dengan cara lama seperti di zaman pendiri DI/TII (cikal bakal NII), Kartosuwiryo.

“Beberapa pola umum yang dilakukan adalah lewat usrah atau pengajian,” ujar aktivis tersebut, Rabu (27/4).

Dia mengatakan, untuk pelajar dan mahasiswa, pengaderan dilakukan melalui pesantren kilat. “Jadi tidak ada kelompok tertentu, misalnya, mahasiswa saja yang dijadikan tujuan basis pengaderan. Semua orang dari semua golongan, bisa dijadikan kader. Pusat pengaderan tidak mesti kampus. Kalau ada peluang bisa masuk (pengaderan), pasti masuk,” kata dia.

Dikatakan dia, perekrut NII berpenampilan apa adanya dan tidak menunjukkan ciri-ciri yang khusus. “Rata-rata mereka (perekrut, red.) malah kebanyakan tidak berjenggot, klimis seperti saya. Penampilan cara berpakaian pun biasa. Selama ini kita kenal tipe-tipe seperti ini biasanya memakai celana yang menggantung, tapi ini tidak,” imbuhnya.

Diungkapkannya, bahwa dirinya yang merupakan pengikut Ustaz Ajengan Masduki itu menjelaskan NII terpecah menjadi beberapa faksi, dan masing-masing mengklaim paling benar. Pola yang dijalankan setiap faksi pun berbeda.

HIPNOTIS

Sumber itu menyebutkan ada faksi yang membolehkan merekrut dengan cara hipnotis. Ada juga faksi yang menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuannya, seperti menggunakan teror bom.

“Semua faksi ada di Lampung dan semua merekrut anggota baru. Lampung ini masih merupakan basis kuat dan melakukan kaderisasi NII,” kata dia.

Ia melanjutkan perbedaan tajam antarfaksi nyaris menimbulkan konflik. Tetapi karena faksi yang satu tidak menyerang faksi yang lain, konflik tidak sampai menimbulkan kontak fisik.

“Untung saja di Indonesia, orang-orang tidak boleh bawa senjata. Kalau boleh sudah saling tembak seperti di Afghanistan. Karena semua pimpinan faksi maunya jadi boss,” katanya.

Terkait dengan keberadaan semua faksi melakukan perekrutan di Lampung, sumber itu menyebutkan nama beberapa orang.

“Dari sejumlah fakta, beberapa orang Lampung jadi pelaku perampokan bersenjata di Medan. Mereka direkrut orang-orang dari semua faksi,” kata dia.

Menurut dia, yang paling berperan dalam perekrutan itu bukanlah organisasi dari faksi-faksi itu. “Yang melakukan perekrutan adalah orang per orang. Satu orang bawa dua atau tiga, itu sudah cukup. Tidak perlu merekrut banyak orang, ” katanya.

“Dari satu atau dua yang direkrut ini kemudian merekrut orang lain lagi. Begitu pola itu seterusnya,” paparnya lagi.(poskota)

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!