Biografi Uskup Surabaya


Oleh Cecilia DV

Buku ini satu-satunya yang mengulas biografi Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono. Buku ini unik dan menarik, hadir pada saat yang dibutuhkan untuk mengenal secara mendalam uskup baru Surabaya.

"Penulis buku ini telah menciptakan tradisi baru dalam sejarah Keuskupan Surabaya. Tepat saat tahbisan uskup, buku bertitel Sang Maestro dari Perak yang mengurai uskup terkait diluncurkan. Pada masa sebelumnya tidak ada,” demikian pendapat Errol Jonathans, Direktur Operasional Suara Surabaya (SS) dalam suatu kesempatan menanggapi lahirnya buku ini.

Seperti dikisahkan dalam sepenggal cerita buku ini, Oei Tik Hauw (nama kecil/perdana) Mgr Sutikno, terlihat ceking/kecil alias kurus bertelanjang dada mandi bareng dengan kakaknya dalam satu ember. Ia pernah kena hukuman ”membersihkan kamar mandi dan WC” gara-gara menerobos wilayah terlarang Angkatan Laut (AL). Ia juga pernah bertelanjang dada, gara-gara baju yang dikenakan diberikan kepada teman yang bajunya rusak dan robek.

Tak ketinggalan, beragam nama lain Mgr Tikno dibahas gamblang, dari Sutikno Palal hingga Sutikno Gembor. Latar belakang pemberian nama yang kocak diungkapkan dengan jujur. Ketika jadi siswa Seminari Garum mengusir orang kurang waras bernama Palal, ini berimbas ia dioloki temannya ”Sutikno Palal”. Ketika menjadi mahasiswa Kentungan, karena suaranya yang menggelegar keras, ia kerap dijuluki Sutikno Gembor.

Aneka cerita lucu, haru, dan bahagia melingkupi buku ini, yang membuat kita tersenyum dan tertawa membaca kisah antik Mgr Tik, yang gemar beternak sapi dan ikan ini. Sapinya dinamai Agnes, namanya kembar dengan suster yang bertugas di Seminari Tinggi Beato Giovanni Malang. Sang suster mendengar namanya sama dengan sapi menjadi uring-uringan. Hehehehe....

Gaya berpakaian ala koboi (maklum dari kecil sudah suka dengan film koboi), alias sekenanya dan tidak rapi. Sempat membuat warga ME (Marriage Encounter) menggojloknya: ”Ayo kita cari dana, untuk menyekolahkan Romo Tik ke John Robot Klowor, agar tidak klowor-klowor terus.” Romo Tik cengar-cengir menanggapi gurauan teman dan umatnya itu. Demikian beberapa cuplikan dari banyak cerita inspiratif dari Mgr Tik.

Cover depan dan desain isi sangat berbeda dengan edisi sebelumnya. Dengan latar belakang warna merah, cover dihiasi wajah bapak uskup sehabis mengikuti tahbisan uskup yang lama dan melelahkan, bapak uskup masih kelihatan bersemangat dan berkeringat.

Buku ini adalah pengembangan dan pengayaan edisi pertama yang terbit Juni 2007. Sama seperti edisi terdahulu yang mengurai biografi Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono. Edisi ini dihadirkan lebih komplet dan detail dari edisi sebelumnya.

Ia memuat hal-hal yang belum tercover dalam edisi sebelumnya, misalnya, soal tahbisan Uskup Surabaya dan jejak langkah Mgr Sutikno pasca tahbisan.

Soal tahbisan uskup, yang menarik diungkap buku ini adalah peristiwa sejarah penting, yaitu tahbisan uskup yang cukup mrinding, haru dan bahagia. Dikisahkan, uskup terpilih tiarap diiringi lagu Litani Para Kudus, tiba-tiba teringat bagaimana nasib korban lumpur Lapindo.

Pada saat yang sama, ibunda Mgr Tikno yang sepuh teringat bayangan almarhum ayah uskup, Pak Wisaksono. Yang seolah hadir dalam tahbisan. Hal inilah yang membuat Mami Mady, ibunda Mgr Tik, sembab dan menangis sulit diredakan. Bayangan masa lalu bersama suaminya kembali diputar. Suasana haru dan bahagia menaunginya. Maminya merasa plong dan bahagia, ketika acara penahbisan usai, ia sempat khawatir pada kesehatan putranya tersebut.

Buku ini mengcover peristiwa alam yang sungguh aneh dan misterius, sehari sebelumnya hari begitu mendung dan hujan deras mendera. Anehnya keesokan harinya, 29 Juni 2007, hari cerah dan panas. Ditambahi bumbu tampilan awan di langit yang seolah-olah membentuk huruf V. Kemudian banyak orang tertular tuk -gathuk ala Mgr Tik, V itu mengacu Vincentius, uskup terpilih. Adalagi yang berpikiran V itu mengacu Victory: kemenangan.

Pemikiran Mgr Tik terkait ”uskup juga domba” diungkap manis. Uskup juga domba mengisyaratkan kerendahan hati dalam memandang jabatan uskup. Bahwa uskup dan umat adalah sama dihadapan Tuhan. Uskup dan umat Allah adalah sama-sama domba dari Yesus Kristus sendiri.

Kita bisa membaca pemikiran uskup pada saat tahbisan. Jika diperdalam dalam kothah ini ada poin-poin keprihatinan bapak uskup terkait kondisi Keuskupan Surabaya. Misalnya bahaya compartementalisme, pengaruh materialisme sensualisme, seksualisme, dan juga soal ketegangan umat dalam memahami roh Allah.

Pada bagian lain, juga diungkap berbagai praktik keseharian uskup. Ada analisis yang menyangkut kepribadian uskup, misalnya datang dari Romo Dr Agustinus Ryadi, yang melihat dari kajian filsafat, menganggap bapa uskup kita adalah seorang yang beraliran pragmatisme. Hal ini bisa dijelaskan mengenai rensponsif Mgr Tik terhadap persoalan yang muncul. Pragmatisme tidak buruk, justru sangat dibutuhkan demi suatu kecepatan tindakan dan pengambilan keputusan. Pada bagian lain diungkap, bapa uskup kita ini yang percaya pada kekuatan intuisinya yang tajam.

Dengan bahasa yang sederhana buku ini ditulis, sehingga kita tidak terlalu pusing dengan istilah dan gaya bahasanya. Namun demikian, buku ini sangat ilmiah karena didukung data dan informasi yang kuat dan valid. Buku ini juga dihasilkan dari wawancara otentik dengan tokoh yang ditulis, yakni Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono sendiri dan lingkaran pengaruhnya.

Buku ini sangat layak dibaca dan dimiliki siapa saja, terutama pemerhati sejarah Keuskupan Surabaya yang ingin memperdalam dan mengetahui praktik dan pemikiran Mgr Sutikno. Atau segenap umat Katolik di Keuskupan Surabaya yang merindukan pemimpin spiritual baru.



Judul buku : Sang Maestro dari Perak
Penulis : Kanisius Karyadi
Pengantar : Romo Yosef Eko Budi Susilo
Penerbit : Karolmedia
Edisi : Kedua (Terbit Desember, -Natal- 2007)
Tebal/ukuran : 21 X 28 (6 mm)
Halaman : xiv + 128 Halaman

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!