Bahaya online bagi remaja


London: Apakah anak remaja Anda pinter internet? Carilah tanda-tanda gejala multiple risk behaviors (MRB). Studi baru menyatakan bahwa remaja yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk online sangat rentan minum-minuman, mengonsumi obat terlarang, dan berhubungan seks tanpa kondom.

Para peneliti di Queen University di Kanada telah menemukan bahwa remaja yang terpaku di layar komputer, sebanyak 50 persen cenderung mengalami risiko perilaku dibandingkan rekan-rekan mereka. Padahal penggunaan komputer oleh remaja telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Studi ini menemukan, sering menggunakan komputer dikaitkan dengan sekitar 50 persen peningkatan keterlibatan dengan sekelompok MRB, termasuk merokok, mabuk-mabukan, tidak menggunakan sabuk pengaman, ganja dan penggunaan narkoba, dan hubungan seks yang tidak aman.

"Penelitian ini didasarkan pada teori kognitif sosial, yang menunjukkan bahwa melihat perilaku orang merupakan sebuah cara untuk belajar perilaku," kata Valerie Carson dikutip Daily Mail.

"Saat remaja terpaku ke layar monitor, lebih dari 4,5 jam setiap hari, mereka terus-menerus melihat gambaran perilaku yang berpotensi ditiru mereka," ujarnya.

Carson, seorang kandidat doktor di School of Kinesiology dan Ilmu Kesehatan, Queen University, menemukan hubungan yang kuat antara komputer dan penggunaan internet serta keterlibatan anak-anak remaja dalam risiko perilaku.

Selain itu, sering menonton televisi juga disalahkan atas lonjakan dalam hubungan seks tanpa kondom. Para peneliti percaya bahwa banyak iklan provokatif yang sebelumnya ditayangkan di televisi sekarang disalurkan di internet. Itulah sebabnya mereka kurang diperiksa silang oleh orangtua dan wali.

Menurut Carson, televisi dan video game memiliki aturan soal sensor. Tetapi di internet aturan sensor kurang ditetapkan. "Orangtua dapat menggunakan program yang mengontrol akses ke Internet, tetapi remaja di kelompok usia ini cukup cerdas teknologi dan Internet". "Ada kemungkinan jenis kontrol dengan memblokir situs web yang tidak diinginkan tidak efektif," jelasnya.

Peneliti menyarankan bahwa penelitian masa depan harus fokus pada konten khusus untuk remaja konten yang sering online sehingga pedoman waktu online bagi pemuda dapat dilaksanakan.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!