Wilayah Eksplorasi Freeport Indonesia di Bumi Papua

DON KARDONO, Timika

SEJAUH mana sih Timika? Dari Jakarta masih bisa ditempuh 6 jam, setelah dikurangi perbedaan waktu 2 jam. Itu sudah termasuk transit minimal di dua kota, Surabaya-Makasar, atau Denpasar-Makasar. Lebih jauh lautan Somalia, lebih jauh Kairo-Mesir, Tri-poli-Libya, atau Fukushima-Jepang sana.

Ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang laut begitu jelas! Itulah gambaran yang sedang diderita warga Tembagapura, kawasan eksplorasi tambang tembaga dan emas terbesar di dunia itu. Ada sekitar 22.000 karyawan dan minimal 40.000 keluarga di sana yang setiap hari kehilangan kemerdekaan. Tidak memiliki rasa aman, tidak punya freedom of fear, sebuah kebebasan asasi yang amat berharga bagi umat di muka bumi. Ini setelah beberapa minggu lalu, —masih di bulan April 2011 ini—terjadi penembakan misterius lagi. Korbannya adalah karyawan PT Freeport, dua orang.

Mereka ditembak, lalu mobilnya di bakar dan didorong ke jurang. Keduanya tewas. Kabar itu begitu cepat menerpa masyarakat Tembagapura yang jaraknya dua jam naik bus, atau 20 menit dengan Chopper – istilah populer helikopter di sana—. Masyarakat pun merasa terteror. Mereka seperti terancam, setelah mereka berdua, lalu siapa lagi? Dengan modus apa lagi? Rasa waswas itu nyaris menghantui mereka setiap kali hendak keluar dari Tembagapura. Situasi tidak aman itu. Ada banyak “teroris” yang tak pernah jelas kabar ujung akhirnya. Berbeda dengan penembakan, peledakkan bom, dan ancaman gangguan teroris di Jakarta dan kotakota lain di Jawa. Tidak terlalu lama, Polisi akan menangkap pelaku dan otak yang bersandiwara di belakangnya.

Polisi juga cepat merekonstruksi motif, mensketsa gambar sel-sel jaringan dan lukisan wajah mereka. Kota-kota di Jawa sudah seperti terekam dalam CCTV dan terkendali penuh, sehingga tidak ada satu bagian pun yg lepas kontrol. Tapi mengapa kasus penembakan di Timika dan Tembagapura, lokasi pertambangan Freeport kok tak pernah terang benderang? Sudah lebih dari 10 tahun, sejak tahun 1990, penembakan sering terjadi. Puluhan kali penembakan itu dibiarkan menjadi teka-teki sejarah yang tidak terungkap. Seolah “tersembunyi” di balik tumpukan emas dan tembaga di sana. Padahal, Timika dan Tembagapura itu kota kecil yang seluruh penduduknya, jika dikumpulkan paling hanya se stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Bayangkan, sejak 1990 sampai 2011 ini, sudah terjadi lebih dari 20 kali kasus penembakan. Tak satupun berhasil ditangkap! Apalagi diungkap. Motifnya apa? Solusinya bagaimana? Tidak seperti Noordin M Top dan kawan-kawannya yang cepat ditangani. Polisi seperti bekerja dengan sangat cepat. Trauma penduduk betul-betul menjadi korban. Berita soal dua pejabat security tewas dibakar mobil dibakar itu membuat semua jadi was was. Tak ada yang berani melintas Timika-Tembagapura, naik jalur darat. Setiap pergerakan, harus konvoi, dikawal petugas bersenjata. Seperti pasukan perang saja. Akibatnya, yang biasa ditempuh 2 jam, sekarang paling cepat 3 jam. Itupun berjalan dengan rasa tidak aman! Rasa takut, siapa tahu tiba-tiba ada serangan peluru nyasar! Wajar juga jika pejabat-pejabat di Freeport enggan, mengomentari peristiwa-peristiwa keamanan itu.

Mereka memilih diam, takut jangan-jangan malah dirinya yang menjadi sasaran. Bahkan, beberapa waktu silam, sekitar 6000 warga menggalang tanda tangan, membuat surat untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atas suasana tersebut. Apakah hanya kami yang tidak boleh mendapatkan hak atas rasa aman? Begitulah jeritan hati mereka. ”Ya terus terang ini menjadi salah satu keprihatinan kami. Apa salah kami? Kami pembayar pajak yang tertib. Darah kami merah putih! Jiwa kami Pancasila.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!