Peradaban Masyarakat Nusantara

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.



Proses pertumbuhan dan perkembangan suatu budaya dapat digambarkan dengan dua model, yaitu sebagai kurva mendatar yang semakin melengkung di ujungnya, atau sebagai jenjang tangga yang semakin menanjak. Dalam model pertama, dibayangkan kebudayaan itu tumbuh dan berkembang terus-menerus tanpa ada hentinya dan semakin lama semakin cepat.
Sementara itu, model kedua memberikan gambaran kebudayaan berkembang secara bertahap. Ada saatnya kebudayaan itu mandeg atau dengan kata lain, keadaan seimbang. Keadaan ini dapat disebut ekuilibrium dinamis, yang terjadi ketika suatu budaya berada dalam keadaan mantap dan stabil.

Memang, pada saat itu ada perubahan-perubahan kecil atau morfostatis, tetapi tidak cukup berarti untuk dapat merubah seluruh sistem budaya yang ada. Barulah, jika keseimbangan itu terganggu atau ada perubahan mendasar yang terjadi, yang dapat disebut sebagai peristiwa morfogenesis, sistem budaya itu harus menyesuaikan diri dengan melakukan perubahan agar dapat tetap bertahan hidup.
Perubahan mendasar yang menyebabkan suatu budaya harus menyesuaikan diri dapat disebabkan oleh pelbagai faktor, baik yang terdapat di dalam sistem budaya itu sendiri (teknologi, organisasi sosial, atau kepercayaan) maupun pada lingkungan di luarnya. Namun di antara berbagai faktor yang ada tampaknya, pertambahan penduduk, ancaman bencana alam, inovasi teknologi dan meningkatnya kebutuhan energi merupakan faktor-faktor yang paling berpotensi mengakibatkan perubahan budaya. Faktor-faktor itu bisa secara sendiri-sendiri maupun bersamaan menimbulkan “gangguan” pada sistem budaya yang ada dalam kondisi ekuilibrium dinamis, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan. Keadaan tidak seimbang inilah yang harus ditanggapi manusia melalui perubahan budaya dalam rangka mencapai keseimbangan kembali.

Kerangka pemikiran evolusi budaya itu tampaknya sangat tepat untuk menjelaskan perubahan teratur yang akhirnya menciptakan sistem budaya Jawa yang cukup maju dan mapan. Untuk dapat menunjukkan proses evolusi budaya yang pernah terjadi, tentu saja harus ditelusuri dan dipelajari terlebih dulu sejarah lingkungan sosial budaya maupun lingkungan fisik yang pernah terjadi dan dialami oleh masyarakat Jawa sekian lama.

Masa Prasejarah

Sekitar dua juta tahun yang lalu, ketika Nusantara masih terdiri atas Dataran Sunda dan Dataran Sahul, serta tertutup vegetasi tropikal yang sangat padat, sudah ada manusia-manusia purba yang hidup sebagai pemburu. Para ahli paleo-antropologi menemukan beberapa tulang-belulang mereka di dekat Trinil, Ngandong, Sangiran dan di dekat Mojokerto, menamakan mereka Pithecantropus erectus. Manusia purba hidup dalam kelompok-kelompok kecil, bahkan mungkin dalam keluargakeluarga yang terdiri dari 6 hingga 12 individu, yang memburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai di sepanjang Dataran Sunda. Cara hidup demikian agaknya berlangsung cukup lama, karena ditemukan sisa-sisa artefak berupa kapak dari batu di Pacitan pada suatu lapisan tanah yang
berdasarkan penyelidikan geologi diperkirakan berumur 800 ribu tahun. Dengan demikian, dapat dikatakan setidaknya sejak 800 ribu tahun lalu di Pulau Jawa telah memiliki suatu kebudayaan.

Para ahli paleo-antropologi saling berdebat apakah Pithecantropus erectus memiliki kebudayaan. Mula-mula mereka berpendapat – walaupun tidak dapat dibuktikan secara ilmiah – seperti Tichelman (1940) bahwa manusia purba itu sudah mempunyai kebudayaan dan oleh karena itu merupakan seorang mahluk manusia. Tetapi pendapat Teuku Jacob (1967) yang didasarkan atas bukti ilmiah yang lebih kuat, yakni suatu analisa paleoantropologi yang cermat atas 11 tengkorak, mengatakan manusia purba tidak memiliki kebudayaan; tetapi karena mereka sempat hidup di Jawa selama hampir satu juta tahun, maka tidak mustahil bahwa dalam jangka waktu itu mereka mengembangkan suatu bentuk kebudayaan.

Dapat dipastikan orang Jawa sekarang bukan keturunan manusia purba, Pithecantropus erectus.
Hasil penelitian menunjukkan mereka punah dan digantikan oleh manusia modern yang sebenarnya, Homo sapiens. Kolonisasi Homo sapiens yang sebenarnya berasal dari Afrika, berhasil menggantikan manusia purba, karena mereka memiliki strategi hidup yang lebih baik dibandingkan para manusia purba, Pithecantropus erectus.

Pembuktian nenek moyang manusia modern seluruhnya berasal dari Afrika dibuktikan melalui pemetaan genetika kromosom (genom). Mutasi genetis bertindak sebagai peta untuk melacak pengembaraan. Mutasi pertama yang diketahui keluar dari Afrika adalah penanda M168 pada kromosom Homo sapiens yang keluar dari benua itu sekitar 50.000 tahun lalu. Penanda ini ada di semua manusia yang tidak tinggal di benua Afrika, termasuk manusia
di Asia, Eropa dan Amerika.

Penduduk Jawa adalah keturunan dari imigrasi bertahap, yang dimulai ratusan ribu tahun lalu, dari Afrika, melewati daratan Asia dan yang bergerak ke arah tenggara melalui Semenanjung Melayu. Menurut Whitten, Soeriatmadja dan Afiff (1996), dikatakan penduduk “asli” pertama di Pulau Jawa (Homo sapiens) mungkin mirip dengan suku Aborigin di Australia yang pindah dari Indonesia sekitar 40.000 tahun lalu. Mereka disebut Australoid dan kemudian tersingkir oleh pendatang dari Asia Tenggara yang memiliki kebudayaan dan adaptasi yang lebih baik sebagai pemburu dan peramu makanan. Keturunannya tidak ada yang dapat hidup di Jawa, tetapi mereka saat ini dapat ditemukan sebagai suku Anak Dalam atau Kubu di Sumatera Tengah, dan sebagian lagi ditemukan terpisah-pisah di Indonesia bagian timur. Diperkirakan mereka adalah bangsa pertama yang membawa kepandaian bercocok tanaman umbi-umbian dan buah-buahan dengan teknik perladangan ke Pulau Jawa.

Temuan artefak di Malakunanja dan fosil di Danau Mungo, Australia,menunjukkan manusia modern berasal dari Afrika dan berkelana mengikuti rute pantai sepanjang Asia Selatan dan mencapai Australia 50.000 tahun lalu. Keturunan mereka, kaum Aborigin masih terisolasi secara genetis sampai sekarang. Selain serpihan peninggalan di Jawa dan Flores, juga ditemukan artefak peninggalan mereka di Gua Niah, Kalimantan.

Kemudian 3.000 sampai 5.000 tahun silam, arus pendatang selanjutnya yang disebut proto-
Melayu datang ke Pulau Jawa. Keturunan mereka saat ini dapat dijumpai di Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan dan Sasak di Lombok. Setelah itu, arus pendatang yang disebut Austronesia atau deutero-Melayu yang berasal dari Taiwan dan Cina Selatan datang lewat laut ke Pulau Jawa, sekitar 1.000 sampai 3.000 tahun lalu. Sekarang keturunannya banyak tinggal di Indonesia bagian barat, dengan keahlian bercocok tanam padi, pengairan, membuat barang tembikar (pecah belah) serta kerajinan dari batu, seperti yang dipaparkan oleh Koentjaningrat.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!