Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 7 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.




Kitab Arjunawiwaha, Pupuh 20 dan 21 menyebutkan di sekitar sebuah pertapaan ditanam buah kapundung (kepundung atau Baccaurea racemosa), duryan (durian atau Durio zibethinus Murr.), langsep (duku atau Lansium domesticum Corr.) dan pisang (Musa paradisa).

Di samping jenis pertanian kering seperti yang diuraikan di atas, masyarakat Jawa pada zaman dulu juga mengenal jenis pertanian basah (sawah). Jenis ini dihubungkan dengan penanaman padi.
Oleh karena penamanan padi dengan cara basah ini memerlukan air, maka sistem pertanian lahan basah dilakukan dengan memberikan air (irigasi). Berdasarkan pengairan, pertanian padi di sawah dapat dibedakan menjadi sawah sorotan dan sawah tadahan. Sawah sorotan mendapatkan air dari sumber mata air atau sungai. Sawah tadahan menerima air dari hujan. Selain dua jenis sawah tersebut di dalam sumber-sumber prasasti sering ditemukan istilah renek atau rawa, yang berarti penanaman padi yang dilakukan pada lahan berupa rawa-rawa.

Dalam beberapa prasasti yang ditemukan di Jawa, terdapat petunjuk adanya keterlibatan
penguasa kerajaan dalam memajukan kegiatan bidang pertanian tersebut, terutama dalam hal turut menyediakan sarana pengairan. Usaha-usaha yang dilakukan penguasa mencakup pembuatan tanggul, waduk, bendung, saluran air dan lain-lain. Hal ini dinyatakan antara lain dalam Prasasti Harinjing 921 M, Bakalan (Wulig) 934 M, Kamalagyan 1037 M, Kandangan 1272 M dan Trailokyapuri 1486 M. Pada Prasati Harinjing disebutkan Kerajaan Mataram Kuno
menganugerahkan pembebasan pajak kepada masyarakat yang dipimpin Bhagawanta Bhari atas jasanya membangun sebuah bendung di Sungai Serinjing, Jawa Timur.

Usaha yang sama juga dilaporkan Prasasti Kamalagyan, yang menceritakan bahwa pengendalian Sungai Brantas yang hampir tiap tahun menimbulkan ancaman banjir bagi para petani. Untuk mengendalikannya dibangunlah tanggul-tanggul oleh Raja Airlangga.

Sementara itu Prasasti Kandangan menceritakan pembangunan sebuah bendung (dawuhan) oleh Bhatara Matahun. Sedangkan Prasasti Bakalan (Wulig) menceritakan pembangunan suatu sistem irigasi untuk mengairi sawah-sawah di daerah Kapulungan, Wuatan Wulas dan Wuatan Tanya. Pembuatan sistem irigasi ini diperintahkan oleh Rakryan Bini Haji Rakryan Mengibil.

Berbicara mengenai teknologi pertanian, bukti-bukti sejarah seperti prasasti, karya sastra dan relief menunjukkan keberadaan pelbagai alat yang digunakan mengolah tanah, seperti cangkul, bajak dan garu. Meskipun artefak dari ketiga jenis alat itu belum ditemukan, tetapi penggunaan alat-alat tersebut dapat dibuktikan dari sumber prasasti, karya sastra dan relief.

Mengenai alat cangkul, buktinya ditemukan pada Prasasti Kembangarum 902 M dan Poh 905
M. Prasasti Kembangarum mencatat sejumlah alat pertanian yang digunakan untuk upacara
penetapan sima (tanah bebas pajak), berupa: wadung, kapak, petel, alat penusuk, linggis, cangkul, trisula dan pisau. Alat cangkul dapat dideskripsikan secara etnografis, terdiri atas dua bagian yakni ujung cangkul (pacul) dan tangkai (doran). Ujung cangkul atau pacul terdiri atas suatu lempengan dari bahan logam – umumnya besi – di mana bagian yang tajam disebut tajaman menyatu dengan bagian belakang yang tumpul (bawak). Bagian belakang ini diberi lubang untuk memasukkan doran.

Cara memasang doran sangat tergantung pada kondisi tanah yang dikerjakan, pada tanah
yang gembur dan lunak umumnya digunakan cangkul yang doran-nya dipasang dengan sudut kemiringan yang cukup tajam bila dibandingkan cangkul untuk lahan yang kering dan keras. Pada daerah yang tanahnya kering dan keras dikembangkan jenis cangkul dengan doran yang dipasang tegak atau nyaris tegak lurus terhadap pacul.

Jenis pengolah tanah lain adalah bajak, yang disebut luku. Pada salah satu panel relief yang
dipahat pada Candi Borobudur terdapat gambar seorang petani mengolah tanah dengan bajak yang ditarik lembu.
Dari relief itu dapat diketahui adanya bagian-bagian bajak, yakni singkal, buntut, racuk dan pasangan. Bagian singkal merupakan bagian utama dari bajak yang membelah tanah, bagian ini terdiri atas bantalan, sumingkir dan kejen. Bagian bantalan dan sumingkir terbuat dari kayu sedangkan kejen adalah serupa tajaman pada cangkul, terbuat dari bahan logam. Bagian bantalan dibuat rata, sedangkan sumingkir berbentuk cekung dan miring ke arah kanan – untuk memindahkan tanah yang dibelah bajak tersebut. Sedangkan kejen berbentuk seperti kapak berujung runcing dengan maksud memudahkan proses pembelahan tanah yang dilalui bajak. Tanah yang telah ditembus kejen akan terangkat ke atas dan ditahan bagian bidang sumingkir, karena bajak ditarik maka tanah yang tertahan tadi akan terangkat dan jatuh terbagi dua ke kiri dan kanan.

Bagian lain dari bajak adalah racuk dan buntut. Bagian racuk dihubungkan langsung dengan
singkal, terbuat dari kayu dan berfungsi untuk menarik singkal.
Alat ini berbentuk memanjang, dengan bagian pangkal melengkung dan pada ujungnya dipasang kayu menyilang yang dinamakan olang-aling, yang merupakan pengikat pasangan. Bagian pasangan adalah bagian yang diikatkan pada leher hewan penarik bajak, bagian ini dapat sekaligus digunakan untuk mengendalikan hewan tersebut. Adapun bagian buntut merupakan ujung bajak yang berada di belakang singkal, dan berfungsi sebagai pelengkap untuk mengendalikan bajak tersebut.
Dari relief pada Candi Borobudur diketahui, racuk yang digunakan hanya satu, ini berarti mata bajak itu hanya sebuah namun ditarik dua hewan sehingga bagian pasangan-nya ganda. Data etnografi dari daerah lain memberi petunjuk, masyarakat petani tertentu juga menggunakan bajak dengan racuk ganda, artinya ada dua mata bajak yang digunakan sekaligus.

Tahap pertama yang dilakukan petani Jawa dalam bercocok tanam adalah amabaki, yaitu
membersihkan tanah garapan dari rerumputan atau sisa tanaman lama. Pekerjaan berikutnya setelah amabaki adalah amaluku, yakni membajak mencangkul. Kedua tahap ini direkam dalam Prasasti Songan Tambahan.

Tahap selanjutnya setelah membajak adalah manggaru. Keterangan mengenai tahap ini ditemukan antara lain dalam Kitab Arjunawiwaha. Kegiatan ini merupakan lanjutan setelah membajak atau mencangkul, di mana bongkahan tanah hasil pembajakan atau pencangkulan, dihancurkan dengan cara menggaru. Dalam pertanian tradisional, pekerjaan menggaru dikenal dengan istilah angler. Pekerjaan angler ini dilakukan setelah tahapan mbedah, nglawet atau nrojoli, yang merupakan proses pencangkulan ulangan sebanyak dua kali untuk menghasilkan tanah yang bersifat remah.

Tahap selanjutnya setelah tanah selesai diolah adalah menanam, yang juga disebut atanam atau atandur. Perlu dijelaskan di sini, tahap pekerjaan ini sebenarnya telah didahului proses penyiapan benih tanaman. Umumnya para petani telah menyiapkan sepetak tanah untuk persemaian benih dari tanaman yang akan dibudidayakan. Sambil menunggu benih ini tumbuh menjadi bibit yang siap ditanam, petani melakukan pengolahan tanah. Gambaran mengenai persemaian bibit ini ditemukan pula pada relief peninggalan dari zaman Kerajaan Majapahit, bahkan dari Kitab Arjunawiwaha diketahui proses penyiapan benih ini disebut angurit.
Setelah bibit tanaman cukup umur untuk dipindahtanam ke tanah yang telah dipersiapkan,
dilakukan pekerjaan ndhaut yaitu mencabut bibit yang siap tanam. Penanaman bibit ini disebut oleh sumber-sumber tertulis sebagai atanam atau atandur. Berdasarkan relief yang ditemukan di Trowulan, Jombang maka penanaman padi misalnya, dilakukan dari muka ke belakang atau berjalan mundur. Hal ini masih dilakukan sampai sekarang. Sesudah tahap menanam maka dilakukan pekerjaan menyiangi, yang disebut mamatuni. Pekerjaan ini dilakukan dengan tujuan membersihkan rumput dan tanaman liar yang dapat mengganggu kesuburan di sekitar tanaman padi. Pekerjaan mamatuni termasuk salah satu cara memelihara tanaman padi, selain pemupukan dan pemberantasan hama penyakit.

Tahap pekerjaan setelah menanam dan menyiangi adalah menuai, bila tanaman tersebut telah berbuah. Pada tanaman padi, penuaian ini dilakukan dengan memotong tanaman pada pangkalnya menggunakan sebentuk pisau yang disebut ani-ani. Bukti penggunaan alat ini terdapat pada Prasasti Songan Tambahan yang menyebut kata ahani untuk pekerjaan memotong padi. Gambaran menuai padi pada masa lalu di Jawa dapat dilihat pada relief yang ditemukan di Candi Rimbi. Kegiatan selanjutnya adalah adalah menumbuk dan menyimpan padi.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!