Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 6 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.



Airlangga sendiri berayahkan orang Bali, rupanya menempatkan pusat kerajaannya
di dekat pantai, di daerah Janggala (sekitar Surabaya atau Sidoarjo pada masa kini).

Setelah Airlangga wafat (1049), pusat kekuasaan di Jawa kembali ke pedalaman. Menurut sastra tradisional, Mpu Bharada – seorang tokoh spiritual – membagi kerajaan itu menjadi dua: Janggala dan Daha.
Garis pemisah kedua kerajaan itu merupakan diagonal yang membelah daerah pengaliran Sungai Brantas tepat menjadi dua. Hal ini menunjukkan kekayaan alam suatu daerah pengaliran sungai adalah aset strategis yang diperlukan kedua kerajaan tersebut.

Surutnya Janggala setelah Airlangga, digantikan kemajuan Daha di pedalaman Jawa Timur,
tepat di jantung DPS Kali Brantas. Kekuasaan di Jawa Timur pun berpindah pusatnya, dari pesisir menuju pedalaman, tepat di pusat Kerajaan Daha sekitar Kadiri (yang kini disebut kota Kediri).
Daha mengalami kejayaannya antara 1059-1205 dan terkenal sampai mancanegara. Raja-raja yang memerintah Kadiri ini umumnya mengaku sebagai titisan Dewa Wisnu, dan dari kekayaan sastra yang mereka tinggalkan tampak mereka adalah pelindung kebudayaan. Selain itu, mereka tetap memelihara hubungan baik dengan Pulau Bali – dari mana Airlangga berasal. Berkat kesusasteraan itu pula kita dapat memahami bagaimana sesungguhnya kehidupan masyarakat di Jawa saat itu dan itu pula yang akhirnya melengkapi informasi-informasi pendek pada prasasti-prasasti.
Pada pokoknya, di sekeliling raja terdapat kelompok bangsawan yang memakai gelar pańji dan mengembangkan budaya yang sangat maju, halus, bahkan piawai. Naskah sastra kaya dengan perlambang atau sindiran yang memiliki artian ganda. Pemakaian candrasangkala menyebar, yakni pengungkapan angka tahun dengan kata-kata khas yang masing-masing memiliki nilai angka.
Dikenal pula jenis “tulisan persegi dari Kediri” yang pembacaannya sulit karena semua aksara
berbentuk bujur sangkar (atau lebih tepat persegi empat) dengan perbedaan-perbedaan yang sangat kecil antara satu dengan lainnya.

Masyarakat di Kadiri hidup dalam keadaan aman dan damai. Hal ini terlihat dari berita negeri Cina yang menyebutkan mata pencaharian penduduk adalah bercocok tanam dan orang bekerja di sawah dengan rambut terurai. Rumah-rumah yang dihuni, tertata bersih dan rapi,
berlantai ubin berwarna hijau dan kuning. Tiap bulan ke lima pada bulan palguna çaitra diadakan pesta air di Sungai Brantas dan banyak orang berperahu dengan gembira.

Sesudah prasasti terakhir dari Kerajaan Kadiri yang dikeluarkan pada tahun 1205, sekitar 60 tahun kemudian, pada tahun 1264 muncul prasasti pertama seorang raja berikutnya, yang memerintah di Singhasari (lebih ke timur letaknya, di sebelah utara Kota Malang). Namun kali ini peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kedua prasasti dapat diketahui berkat teks-teks sastra, seperti Nagarakertagama (syair panjang yang ditulis pada tahun 1365) dan Pararaton atau “kitab para raja” (sebuah prosa yang dikarang pada awal abad ke 16).

Kisah itu justru dimulai dari cerita mengenai Kén Angrok yang telah diangkat menjadi raja dengan gelar penobatan: Rajasa. Ia menggulingkan wangsa Kadiri pada tahun 1222 dan mendirikan kerajaan baru berpusat di Singhasari. Sambil mengembangkan sektor pertanian – yang maju karena tanah di situ subur serta cukup tersedia air – ia tetap waspada terhadap negeri Jenggala yang terbuka ke arah laut itu. Raja Singhasari yang terbesar adalah Kertanegara (memerintah 1286-1292) yang seperti kita ketahui, menjalankan suatu politik luar negeri yang sesungguhnya. Sesudah serangan Cina-Mongol pada tahun 1292-1293 yang merupakan suatu trauma dahsyat bagi seluruh wilayah, seorang pangeran bernama Radén Wijaya, yang mengaku keturunan Rajasa dan telah menikahi anak Kertanegara,
berhasil memulihkan kerajaan dan memakai gelar penobatan sebagai Kertarajasa. Dia mendirikan pusat kerajaan di Trowulan, lebih ke pedalaman dari Jenggala, yang kini termasuk daerah Mojokerto dan menamai kerajaannya Mojopahit.

Puncak kejayaan Mojopahit dan kekuasaan raja-raja Jawa baru dicapai dalam pengertian pada abad berikutnya, khususnya pada pemerintahan Hayam Wuruk (atau Rajasanagara, memerintah pada 1350-1389). Bagaimana pun juga informasi paling memadai mengenai periode ini adalah dari Nagarakertagama selain sejumlah teks tambahan yang ditemukan terpisah-pisah sebagai bagian kesastraan Jawa saat itu. Kemasyhuran Jawa kemudian menyebar hingga ke luar pulau, tidak hanya berkat administrasi pemerintahan Mojopahit yang kuat, atau angkatan perangnya (di bawah jenderal terkenal, Gajah Mada), namun lebih karena keberhasilan spasial menata suatu wilayah secara ekonomi, yang ternyata memberi hasil optimal.

Budaya Pertanian di Jawa

Gambaran mengenai budaya pertanian di Jawa sebelum kehadiran teknologi bercocok tanam
modern oleh para kolonialis Eropa, hanya diketahui dari beberapa sumber data yang sangat terbatas, seperti prasasti, karya sastra Jawa Kuno, relief, baik yang bersifat artefaktual maupun tidak. Di antara sumber-sumber data tersebut, prasasti, karya sastra dan relief merupakan data yang cukup penting untuk merekonstruksikan budaya pertanian di Jawa.

Ada beberapa prasasti yang ditemukan di Jawa Timur yang dapat mengungkapkan kehidupan pertanian dari masa sejarah sebelum kehadiran sistem pertanian modern sebagaimana dianut sekarang. Beberapa prasasti tersebut adalah: Kwak I 879 M, Ngabean V (disebut juga Ra Tawun I) 883 M, Kamalagi 831 M, Watukura I 902 M, Harinjing 921 M, Bakalan (disebut juga Wulig) 934 M, Kamalagyan 1037 M, Prasasti Kandangan 1035 M, dan Trailokyapuri 1468 M.

Dari sumber prasasti-prasasti tersebut terdapat keterangan yang berhubungan dengan kehidupan pertanian, antara lain mengenai jenis-jenis pertanian, pejabat yang mengurusi soal pertanian, pajak-pajak pertanian, serta usaha-usaha yang dilakukan penguasa dalam memajukan sektor tersebut. Bahkan ada pula prasasti yang memuat keterangan mengenai proses bertani padi, mulai dari mengolah padi, mulai mengolah tanah, menyebar benih, menanam, menuai dan mengolah hasil pertanian. Keterangan yang serupa juga diperoleh dari karya-karya sastra Jawa Kuno. Sumber-sumber ini mencakup Kakimpoi Ramayana, Kitab Tantu Panggelaran, Kitab Arjunawiwaha, Sutasoma dan Pararaton.
Keterangan lain yang melengkapi tentu adalah relief-relief, yang merupakan “foto” yang mengabadikan kehidupan pada masa lalu.

Berbicara mengenai jenis-jenis pertanian pada dasarnya dapat dibedakan menjadi: pertanian
lahan kering dan lahan basah. Pertanian lahan kering adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan pada tanah tegalan, di ladang atau kebun, sedangkan pertanian lahan basah adalah usaha bercocok tanam di lahan yang terendam air (sawah). Dari sumber sejarah, diketahui bahwa kedua jenis pertanian ini dikembangkan di Jawa. Jenis pertanian lahan kering lebih dulu dikenal, mungkin pada cocok tanam slash and burn yang dimulai sejak nenek moyang orang Jawa bermukim di pulau ini lebih dari 3.000 tahun lalu. Sedangkan bercocok tanam lahan basah dikenal setelah arus pendatang
yang disebut kaum deutero-Melayu dari Taiwan dan Cina Selatan datang lewat laut ke Pulau Jawa, sekitar 1.000 sampai 3.000 tahun lalu.

Jenis-jenis tanaman yang dapat dibudidayakan di lahan kering berupa ladang (tegalan)
jumlahnya lebih bervariasi. Tanaman di tegalan dapat menghasilkan tanpa adanya sistem pemberian air, irigasi atau pengairan, umumnya meliputi jenis umbi-umbian dan biji-bijian, termasuk jenis tanaman padi gaga (padi kering). Salah satu prasasti yang pertama kali menyebut adanya tanaman padi kering ini adalah Prasasti Watukura I 902 M. Jenis pertanian lahan kering lainnya adalah pertanian di kebun. Jenis pertanian di kebun ini dibedakan dari tegalan karena perbedaan letak.

Ladang atau tegalan letaknya terpisah dari tempat hunian (perumahan), sedangkan kebun adalah letaknya berdekatan dengan tempat hunian. Oleh karena itu, ladang biasanya lebih terbuka, sedangkan kebun lebih banyak ditumbuhi jenis tanaman peneduh dan atau sayur mayur.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!