Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 5 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.




Pola kehidupan yang menetap, dengan mengolah lahan pertanian secara intensif, merupakan cara adaptasi terbaik yang dipilih masyarakat prasejarah di Jawa dalam menghadapi desakan kebutuhan pangan. Beberapa serpihan dari mata bajak yang ditemukan menunjukkan, pengolahan lahan sudah dilakukan dengan teratur dan disertai perhitungan yang sesuai musim. Cukup banyak pakar berpendapat, tidak tertutup kemungkinan jaringan irigasi yang teratur beserta organisasi sosial yang mendukung pengelolaannya telah diterapkan di Pulau Jawa sejak zaman prasejarah.

Tukar menukar barang sudah berlangsung, termasuk dengan orang-orang dari tanah seberang. Kelebihan hasil pertanian dan ladang ditukar dengan benda-benda yang tidak dapat mereka hasilkan sendiri,seperti bahan logam (khususnya besi), manik-manik, dan juga keramik (pada masa-masa yang lebih kemudian). Melalui cara hidup seperti itulah masyarakat di Jawa dapat mempertahankan keseimbangan sistem budayanya, mempertahankan suatu ekuilibrium dinamis, sehingga kehidupan semacam itu dapat berlangsung cukup lama. Masuknya Jawa ke dalam masa sejarah, ternyata tidak membawa perubahan berarti dalam sistem pertanian.


Masa Sejarah - Pembentukan Kekuasaan Raja yang Lamban

Pulau Jawa memasuki babak sejarah setidaknya lewat para pengelana India sejak abad pertama Masehi telah melawat negeri ini. Bahkan diberi nama yāvadvipa yang kurang lebih berarti tanah jewawut atau padi.

Selain beberapa kutipan yang kabur, teks-teks dari sastra India adalah petunjuk paling awal mengenai penamaan Pulau Jawa. Dalam kisah Ramayana disebut yāwadvipa, nama untuk Pulau Jawa yang disanskertakan, demikian pula dalam Niddesa, sebuah teks kanonik berbahasa Pali yang pasti berasal dari abad-abad pertama tarikh Masehi, disebut pelbagai nama tempat yang kemungkinan berada di Asia Tenggara.
Demikian hasil penelitian sastra India oleh S. Lévi, Pour l’histoire du Ramayana (1918) dan “Ptolémée, le Niddesa et la Brihatkath” dalam Etudees Asiatique, EFEO II (1925).

Walau telah dikenal sejak abad pertama, Jawa baru diketahui seluk-beluk masyarakatnya, atau dikatakan benar-benar mengalami masa sejarah, setelah kerajaan-kerajaan kecil bermunculan sebagai akibat pengaruh indianisasi.
Pengaruh kebudayaan India pada hakikatnya hanya mampu menembus menerobos kehidupan keagamaan, dengan dianutnya agama Hindu dan Budha oleh beberapa kelompok masyarakat, khususnya para elite yang saat itu menguasai perniagaan hasil bumi, yang kerap bergaul dengan para pedagang India. Mereka meminjam nama-nama, ungkapan-ungkapan, dan secara lebih luas,
bahasa dari India untuk dipakai di lingkungan mereka. Menurut van Naerssen dan de Iongh, struktur birokrasi dari kerajaan-kerajaan (Hindu) mula-mula di Jawa sebenarnya berakar dari kelembagaan adat pra-Hindu. Sebelum kedatangan agama Hindu, sudah ada dua lembaga adat yang mengatur kehidupan masyarakat desa, yakni pada tingkat desa (wanua) yang dipimpin seorang patron atau tetua desa (raka), serta federasi dari raka-raka yang membentuk suatu simbiose.

Prasasti-prasasti pertama yang ditemukan di Jawa berasal dari Pasundan sebelah utara, dekat Jakarta dan Bogor, serta sedikit ke arah barat, di Lebak. Jumlahnya lima buah dan membentuk suatu rangkaian yang dapat diperkirakan berasal dari zaman yang sama.
Prasasti itu dibuat dalam bahasa Sansekerta dan ditatah di atas batu besar dengan huruf Pallawa, yang dapat memberikan perkiraan pembuatannya adalah sekitar abad ke 5. Disebutkan keberadaan sebuah kerajaan bernama Tārūma dengan raja bernama Pūrnnawarmmā, yang dipuji karena menjadi pengikut setia Dewa Wisnu.
Atas perintahnya, digali sebuah saluran di daerah Tugu – tidak jauh dari lokasi yang kini menjadi Pelabuhan Tanjungpriok. Prasasti-prasasti dengan dua sampai lima barisan tulisan ini menjadi bukti pertama dari masuknya Jawa ke dalam masa sejarah. Peristiwa-peristiwa di tanah Pasundan yang direkam dalam prasasti-prasasti ini tidak dilanjutkan sampai munculnya prasasti lain pada abad ke 14. Proses pembentukan kerajaan dan kebudayaan Jawa, muncul justru di wilayah Jawa Tengah dan Timur kurang lebih 3 abad setelah prasasti Raja Pūrnnawarmmā.

Prasasti-prasasti dari Jawa Tengah yang muncul dari awal abad ke 8, mengungkapkan tentang tumbuhnya sejumlah penguasa setempat, yang disebut raka atau rakryan, yaitu penguasa yang telah berhasil menguasai sejumlah wanua atau komunitas pertanian. Para raka atau rakryan ini berusaha meningkatkan prestise mereka dengan membangun berbagai tempat pemujaan. Dari prasastiprasasti itu dapat diketahui, di Jawa Tengah sedang berlangsung proses penyatuan (integrasi) yang untuk ukuran zaman itu, terbilang cukup maju. Sejumlah wanua yang masing-masing dipimpin rama, tampaknya telah mengelompokkan diri dalam federasi-federasi regional atau yang disebut watak yang dipimpin seorang raka.
Misalnya, rakai Pikatan berarti “penguasa dari Pikatan.” Para raka tampaknya berada dalam situasi yang mirip dengan apa yang dialami kelompok pemimpin pada zaman megalitik di Jawa, karena untuk melegitimasi kedudukan mereka di dalam masyarakat, kelompok elit ini mengadakan pesta-pesta jasa (honour feastings) untuk memelihara stabilitas kekuasaan mereka. Kerap kali, mereka membuka tanah untuk dianugerahkan kepada komunitas Hindu atau Buddha – yang sebaliknya akan menganugerahkan kepada mereka berbagai gelar simbolis yang meningkatkan gengsi sang raka. Ketika hubungan jasa ini semakin melembaga, para raka pun semakin berusaha menyenangkan hati komunitas-komunitas keagamaan, dengan membangun berbagai tempat pemujaan secara besar-besaran, seperti hal Candi Borobudur, Pawon dan Mendut. Agaknya beberapa wangsa raja pernah saling berhadapan, bersaing secara geografis.

Sayang sekali batas wilayah dari para raka tidak diketahui secara persis. Di luar para raka yang tidak diketahui, dapat disebut wangsa Sanjaya sebagai wangsa yang paling cemerlang sebab pendirinya adalah raka di Mataram, wangsa Walaing dari daerah di sekitar Candi Ratu Baka (dekat Yogyakarta), wangsa Śailendra dan akhirnya, wangsa Patapan.

Pada abad ke 9, tanah Jawa untuk pertamakali disatukan. Seorang penguasa bernama Śri Maharāja Rakai Kayuwangi, yang telah mengeluarkan sejumlah prasasti antara tahun 873 hingga 882, menyatakan diri sebagai satu-satunya raja yang berhak memberikan anugerah. Sehingga dapat disimpulkan ia adalah penguasa tertinggi di dalam federasi dari raka-raka di Jawa saat itu.
Penggantinya, Dyah Balitung, raka di Watukura, memperkokoh keadaan itu dan pada tahun 907 memerintahkan pembuatan prasasti panjang yang menyatakan dirinya keturunan Sanjaya dan menyebutkan pendahulu-pendahulunya yang sah. Salah satu hal penting di dalam inskripsi yang ditinggalkan raja ini adalah menyebutkan Jawa Timur sebagai salah satu wilayah kekuasaannya.

Sampai saat itu, Jawa Timur hanya diketahui dari sejumlah prasasti kecil yang ditemukan terpisah-pisah; dan sedikit peninggalan kecil, berupa Candi Badut, sebuah reruntuhan candi dan sejumlah batu berukir menyerupai perangkat gamelan di Mertojoyo, yang seluruhnya berada di sekitar Kota Malang. Di kemudian waktu, peran Jawa Timur akan menjadi besar sekali. Raja Daksa, Tulodong dan Wawa, yang berkuasa setelah Dyah Balitung, masing-masing dengan masa pemerintahan yang sangat pendek, juga mengeluarkan prasasti-prasasti baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Akan tetapi pada tahun 928, raja Mataram bernama Mpu Sindok memindahkan keratonnya untuk selama-lamanya
ke Jawa Timur dan sejak saat itu untuk waktu yang lama tidak ada lagi prasasti dari Jawa
Tengah.

Pemindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur banyak dipertanyakan sebabnya; apakah karena rakyat telah kehabisan tenaga untuk membangun berbagai candi megah? Atau, serangan dari negara asing? Ada pula yang mengeluarkan teori bencana alam, gunung yang meletus misalnya, seperti waktu sebuah candi kecil ditemukan di Sambisari, dekat Yogyakarta dalam keadaan terkubur tanah koluvial sampai puncaknya. Apapun sebab perpindahan ini, untuk selanjutnya selama hampir 6 abad lamanya, pusat kekuasaan berada di Jawa Timur, barulah pada abad ke 16 muncul seorang penguasa Jawa Tengah yang berhasil mendirikan “kerajaan Mataram kedua.”

Setelah prasasti terakhir Mpu Sindok, tahun 948, sekitar 70 tahun kemudian baru muncul
sebuah prasasti dari Airlangga yang berangka tahun 1021. Dalam sebuah prasasti yang dibuat kemudian, raja dari Jenggala ini menyebut adanya suatu “bencana besar” (pralaya) pada 1016, namun tidak menyebutkan apa bentuknya, kecuali membanggakan diri telah menyelamatkan negeri dari bencana tersebut atas permintaan kaum brāhmana. Para sejarawan menduga, bencana itu terkait dengan letusan gunung berapi (Gunung Kelud) atau banjir yang diakibatkan perubahan morfologi Sungai Brantas.



[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!