Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 4 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.




Bangunan batu lainnnya adalah susunan batu yang memiliki bentuk menonjol, serupa alat
musik kenong dalam khazanah gamelan Jawa di masa kini. Batu kenong memiliki bentuk dasar menyerupai tabung, bagian atasnya agak meruncing dan tumpul. Batu-batu ini umumnya disusun dalam suatu tatanan tertentu – kebanyakan membentuk persegi empat, oleh karena itu sering ditafsirkan sebagai umpak penopang tiang bangunan.
Untuk mengungkapkan kehidupan masyarakat megalitik di daerah itu, serangkaian penelitian
dilakukan van Heekeren pada tahun 1929-1932 dan dilanjutkan Willems pada tahun 1938.
Penelitian itu memastikan, pandhusa dan sarkopagus memang digunakan untuk penguburan.

Di dalam kubur itu disertakan pula bekal kubur berupa periuk, gigi binatang, manik-manik, besi dan keramik Cina dari abad ke 9 Masehi. Penggalian pada susunan batu kenong memberikan hasil yang tidak jauh berbeda, yakni ditemukan gigi binatang, pecahan gerabah, manik-manik, batu pemukul, gelang besi, dan fragmen (pecahan) alat besi yang ditafsirkan sebagai sejenis mata pahat. Temuan-temuan sejenis juga didapatkan dalam penggalian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1983. Selain itu ditemukan pula di dekat susunan batu kenong, sebuah fragmen alat besi yang diduga adalah mata bajak. Bentuk fragmen besi hasil penggalian Willems tidak berbeda jauh dengan mata bajak yang ditemukan, sehingga mungkin saja alat besi itu bukan mata pahat tapi juga mata bajak.
Hasil penelitian itu menunjukkan, pendukung kebudayaan megalitik di Bondowoso merupakan
suatu komunitas yang kompleks. Temuan bangunan megalitik dan umpak-umpak batu membuktikan mereka sudah hidup menetap.

Tampaknya, mereka sudah melakukan kegiatan pertanian yang intensif, dibuktikan oleh temuan mata bajak dari besi. Bajak diperlukan untuk mengolah tanah yang tidak punya cukup waktu untuk memulihkan zat hara secara alami, misalnya karena segera akan ditanami kembali. Pemakaian bajak di daerah Bondowoso sekitarnya, pada lahan yang merupakan bekas hutan musiman atau sabana, memerlukan perhitungan yang masak. Jika ditetapkan dengan kurang benar justru dapat mengakibatkan kerusakan tanah. Rupanya, pengolahan tanah dengan bajak telah dikuasai dengan benar oleh masyarakat megalitik di Bondowoso saat itu, nyatanya mereka tetap dapat hidup dengan cara bercocok tanam seperti itu hingga Jawa memasuki masa sejarah, setidaknya sampai abad ke 9 atau lebih. Ini tentu karena mereka mampu mengelola sumber pangan yang dapat diandalkan dengan penguasaan cara pertanian yang baik.

Penerapan cocok tanam yang intensif oleh masyarakat prasejarah di Jawa Timur dapat
dibuktikan juga dengan temuan batu pemukul. Batu pemukul ini berbentuk persegi dengan panjang sekitar 8 cm dan lebar 2,5 cm. Pada alat batu itu tertanam goresan-goresan seperti kolom yang diisi dengan beberapa lubang kecil, tiap kolom dan lubang memiliki jarak tertentu yang menunjukkan adanya suatu algoritma yang direkam pada batu itu. Para arkeolog menduga, batu pemukul itu sebenarnya memiliki fungsi untuk menghitung musim, dan bukan perimbas. Selain itu, ditemukannya pula tulang-belulang hewan di sekitar pandhusa dan batu kenong menunjukkan adanya pemeliharaan ternak sebagai pendukung cocok tanam yang intensif. Ternak dimanfaatkan tenaganya untuk menarik bajak, mengangkut hasil panen, dan digunakan kotorannya untuk pupuk, selain dipersembahkan dalam acara-acara ritual mereka.

Adanya beragam bentuk kubur, dengan bekal yang bermacam-macam pula, menunjukkan
kompleksitas kehidupan religi dan organisasi sosial dari masyarakat prasejarah di Jawa. Masyarakat megalitik umumnya melakukan berbagai kegiatan ritual untuk memuja arwah nenek moyang.
Kehidupan mereka sehari-hari diwarnai dengan upacara-upacara yang pada dasarnya bertujuan untuk memohon berkah dari para leluhur agar mereka hidup sejahtera. Upacara-upacara ini erat dikaitkan dengan berbagai fenomena kekuatan alam, seperti matahari terbit dan terbenam, gerhana bulan, badai, petir dan letusan gunung berapi, atau dengan unsur-unsur alam yang dominan, seperti sungai yang besar, gunung yang menjulang atau pohon-pohon yang besar. Melalui upacara-upacara itu mereka mengharapkan agar apa yang mereka miliki, terutama tanah dan ternak, memberikan hasil yang sebaik-baiknya.
Hal ini sebenarnya menunjukkan ketergantungan masyarakat megalitik di Jawa pada sektor agraria. Keadaan ini pada gilirannya akan mendorong munculnya organisasi sosial yang lebih rumit daripada masyarakat yang mengandalkan pertanian ladang berpindah.
Pengaturan akan hak pemilikan dan pengolahan tanah serta perolehan hasilnya menjadi penting, sehingga di dalam masyarakat itu muncullah lapisan sosial. Pemusatan kepemilikan akan memunculkan suatu kelompok elite yang akhirnya menjadi kelompok pemimpin.

Untuk melegitimasi kedudukan di dalam masyarakat, kelompok ini akan mengadakan pesta pesta jasa (honour feastings) dengan mendirikan bangunan-bangunan megalitik beserta upacara korban. Upacara-upacara tadi dilaksanakan secara teratur dan akibat dari meningkatnya aktifitas religi akhirnya memunculkan para pemimpin upacara yang biasanya sekaligus menjadi perantaraantara masyarakat dan leluhur mereka.
Sementara itu, kebutuhan akan peralatan dan teknologi yang makin maju, antara lain untuk mendirikan bangunan megalitik dan menyediakan peralatan logam, yang memerlukan ketrampilan tertentu, menghadirkan kelompok perajin. Semuanya itu menyebabkan suatu struktur sosial yang teratur sangat diperlukan. Oleh karena itu dapat dikatakan, di sekeliling bangunan megalitik sebenarnya terdapat komunitas-komunitas prasejarah yang memiliki susunan kemasyarakatan kompleks.

Masyarakat prasejarah yang kompleks tidak hanya ditemui di Bondowoso, namun juga di
Cepu, Bojonegoro, Tuban, bahkan di Pacet, Mojokerto. Berbagai peninggalan megalitik, yang
berujud kubur-kubur dari peti batu, selain tulang belulang manusia ditemukan bersama-sama hasil penggalian arkeologi yang mendapatkan manik-manik, berbagai jenis gerabah, perhiasan dari emas, alat perunggu dan besi, keramik dari Cina serta tulang dan geligi binatang. Sayang sekali, penelitian di Cepu, Bojonegoro, Tuban dan Pacet masih belum dapat memberikan gambaran yang rinci mengenai keadaan masyarakat yang meninggalkan temuan-temuan tersebut. Selain sejumlah kubur dari peti batu, sejumlah batu tegak dan batu datar dengan lubang-lubang mirip alat permainan dakon, penelitian yang lebih mendalam masih perlu dilakukan. Namun, jika ditilik dari kemiripan bentuk tinggalan arkeologis yang ditemukan, serta lingkungan fisik di mana situs-situs itu berada, tampak corak kehidupan dari masyarakat megalitik di lokasi-lokasi tersebut tidak berbeda jauh
dengan kehidupan prasejarah di Bondowoso.

Alhasil dapat dikatakan, tatanan kehidupan pada masyarakat megalitik di sepanjang poros yang menghubungkan Cepu, Bojonegoro, Tuban, Pacet hingga Bondowoso, merupakan suatu corak kehidupan yang pernah dominan di Jawa Timur, bahkan sangat mungkin meliputi seluruh Pulau Jawa pada masa prasejarah. Salah satu peninggalan megalitik yang cukup menonjol di luar lengkung yang membentang dari Cepu, Bojonegoro, Tuban, Pacet hingga Bondowoso, terletak di Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pada situs megalitik ini dapat dilihat bahwa 2.500 hingga 1.500 tahun sebelum Masehi, telah berkembang budaya megalitik yang cukup maju. Gunung Padang sendiri merupakan perbukitan terjal dengan ketinggian sekitar 1.000 m. Pada awal masa Miosen (sekitar 38 juta tahun lalu), Gunung Padang masih merupakan laut. Secara bertahap mengalami pembentukan menjadi suatu dataran dari batuan beku hasil letusan gunung berapi (andesit). Situs megalitik Gunung Padang terdiri atas bangunan berundak-undak yang berukuran panjang 118 meter dan lebar 40 meter, pada teras pertama. Bangunan itu terdiri dari lima tingkatan,
yang makin meninggi makin luasnya menyempit. Teknik penyusunan serta bentuk batu-batunya yang digunakan mirip dengan bangunan berteras serupa di wilayah Samudera Pasifik yang disebut marae.

Struktur bangunan berteras dengan susunan batu besar juga ditemui di kawasan timur Indonesia. Rumah adat baileo di Maluku didirikan pada tanah yang ditinggikan, dan berfungsi sebagai tempat pertemuan warga. Umumnya bangunan itu juga dilengkapi suatu tahta batu yang diletakkan di dekat salah satu penjuru rumah.

Hari Sukendar memperkirakan bangunan itu kemungkinan merupakan suatu tempat berkumpul para pemimpin masyarakat dalam memutuskan suatu perundangan atau aturan-aturan yang harus dipatuhi masyarakat saat itu. Hal ini didasarkan pada studi analogi etnografi di Nias dan Flores, Timor Barat. Teras-teras yang lebih tinggi digunakan dalam upacara-upacara yang berkaitan dengan pemujaan arwah. Penempatan dan perekayasaan batu andesit tersebut jelas dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam arsitektur prasejarah, karena kemungkinan bangunan itu runtuh sangat besar jika dibangun tanpa keahlian. Demikian, jelaslah di Cianjur, Jawa Barat, pernah berkembang suatu komunitas masyarakat megalitik yang “relatif maju” jika ditilik dari kemampuan mereka untuk
melaksanakan rekayasa konstruksi. Komunitas demikian pastilah ditumpu oleh suatu system sosialkemasyarakatan yang mantap, karena sumberdaya yang digunakan untuk membangun suatu kompleks megalitik, pastilah besar.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!