Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 3 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.




Memang cara bercocok-tanam yang dilakukan oleh para pendukung Budaya Sampung masih
kuat dan amat sederhana. Dulunya mereka mungkin hanya memanen jenis umbi-umbian tertentu, seperti keladi atau uwi di habitat aslinya. Namun lama kelamaan mereka makin memahami cara reproduksi tanaman itu, sehingga sebagian dari umbi-umbian tadi lalu ditanam kembali dalam lubang-lubang yang telah digali, sebagai tunas yang diharapkan akan tumbuh dewasa hingga panen berikutnya. Teknik budidaya tanaman seperti itu seperti disebut vegeculture itu dapat dianggap sebagai pola awal cocok-tanam yang dapat dikenalkan Temuan sudip tulang berbentuk tugal yang berbentuk mirip beliung serta tanduk rusa yang dibuat sebagai alat penggali, menyiratkan penerapan teknik vegeculture itu oleh pendukung Budaya Sampung.

Tampaknya pola budidaya tanaman seperti itu berlangsung cukup lama, antara 2.500 hingga 3.000 tahun sebelum Masehi. Seperti halnya di berbagai tempat di Indonesia lain, sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi, Pulau Jawa didatangi oleh imigran dari Asia Tenggara bagian utara. Mereka adalah orang-orang yang memiliki bahasa induk Austronesia. Mereka dulunya mendiami kawasan sekitar Taiwan dan kepulauan Filipina bagian barat. Tanpa sebab yang jelas, mereka berimigrasi ke selatan dengan membawa serta kebudayaan mereka yang telah mengenal bercocok-tanam padi. Bangsa itu akhirnya tinggal menetap di Kepulauan Nusantara, menularkan kebudayaan mereka dan hidup bercampur dengan penghuni lama, hingga secara etnis membentuk mayoritas penghuni Kepulauan Nusantara hingga kini.

Sejak itulah di Indonesia, dikenal budidaya tanaman padi pada tingkat sederhana. Berbeda
dengan budidaya tanaman bertunas, budidaya padi (Oryza sativa) menuntut teknologi bercocoktanam yang sedikit lebih rumit. Padi bukan tanaman asli kepulauan ini, sehingga agar bisa tumbuh dengan baik, harus dibuatkan habitat tiruan yang mirip dengan habitat aslinya. Atau, dengan rekayasa genetik secara sederhana, misalnya dengan penyilangan, dilakukan usaha mencari benih yang lebih cocok dengan lingkungan barunya, walaupun usaha dengan cara terakhir ini sangat mungkin belum dipraktekkan pada taraf seawal ini. Untuk menciptakan habitat yang sesuai itu, tentu saja diperlukan perkakas yang lebih handal. Kebutuhan itu mendorong para pendukung Budaya Sampung itu untuk membuat beliung atau kapak batu.
Alat ini jelas lebih berdaya guna, terutama untuk menebas pohon dan membabat hutan membuka lahan baru yang diperlukan untuk menanam padi. Sejumlah beliung dari batu juga ditemukan di situs Gua Lawa, Sampung, pada lapisan yang agak ke atas. Temuan tersebut memberi petunjuk, pada akhir Budaya Sampung, pendukung budaya itu juga terlihat dalam upaya alih teknologi budidaya tanaman yang lebih maju.

Budidaya tanaman padi rupanya memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan budidaya
umbi-umbian, sehingga penerapan cara bercocok-tanam ini seringkali dianggap sebagai pendorong pertambahan penduduk. Sebaliknya, pertambahan penduduk akan menuntut perolehan hasil pertanian yang lebih banyak. Hal ini dapat dipenuhi dengan dua cara, yakni: memperluas lahan dengan membuka hutan (disebut ekstensifikasi) dan melakukan intensifikasi. Di Jawa, karena daerah hutan yang tersedia pada saat itu masih cukup luas, rupanya pilihan jatuh pada yang pertama.
Semakin banyak hutan dibuka, tentu saja semakin banyak pula kebutuhan akan beliung batu. Sebagai akibat permintaan yang cukup tinggi akan perkakas-perkakas batu, kemudian muncul semacam “industri” pembuatan perkakas dari batu – yang umumnya terletak dekat dengan sumbersumber bahan batuannya.

Di Jawa Timur, “industri” perkakas batu terdapat paling tidak di dua tempat, yaitu di daerah
Kendenglembu, Jember dan di Punung, dekat Pacitan. Situs pembuatan beliung batu di
Kendenglembu pernah digali oleh van Heekeren (1941) namun akibat Perang Dunia ke 2, hasil penelitiannya musnah sehingga tidak dapat dikaji lebih lanjut. Pada tahun 1968, situs ini digali kembali oleh Soejono. Penelitian Soejono mampu mengungkapkan adanya dua lapisan budaya, yaitu lapisan budaya Majapahit ditandai dengan penemuan mata uang Cina, kepĂ©ng, bata, gerabah baru, keramik dan cincin besi. Sementara itu, pada lapisan prasejarah ditemukan lebih banyak beliung batu yang belum jadi, tatal-tatal batu sisa pembuatan, batu asahan dan sejumlah beliung yang sudah jadi. Pada lapisan itu juga ditemukan cukup banyak gerabah – sehingga itu menguatkan dugaan van Heekeren bahwa bengkel itu juga merupakan tempat bermukim. Temuan-temuan ini paling tidak memberikan gambaran tentang suatu industri beliung batu dari zaman prasejarah di Jawa.

Desakan penduduk yang bertambah jumlahnya untuk mendapatkan lebih banyak bahan
makanan dari usaha bercocok-tanam akhirnya mendorong “industri” perkakas batu.
Lebih menarik lagi, adalah adanya kompleks perbengkelan di Punung, Pacitan. Di daerah ini
van Stein Callenfels pernah mencatat sekitar 100 situs yang termasuk tempat usaha perbengkelan pada zamannya.
Bengkel-bengkel batu di Punung tidak saja menghasilkan beliung batu namun juga mata-panah dari batu yang bentuk maupun bahannya mirip benda-benda sejenis dari Gua Lawa di
Sampung, Ponorogo. Oleh karena itu, amat beralasan jika van Stein-Callenfels menduga ada
hubungan antara manusia yang pernah tinggal di Sampung dengan para pengrajin beliung dan mata-panah di Punung. Hanya saja, sulit diketahui sejauh mana hubungan antara kedua komunitas tersebut. Namun, yang jelas bengkel di sekitar Punung telah menghasilkan ribuan beliung batu dan mata-panah batu. Dengan perkiraan produksi yang mencapai ribuan – bahkan mungkin puluhan ribu beliung – dapat dibayangkan kebutuhan akan perkakas tersebut tentu saja cukup besar.
Hal ini sekaligus menunjukkan di daerah Jawa Timur saja terdapat cukup banyak masyarakat yang mempraktekkan cocok tanam sederhana, peladang berpindah dengan cara tanam tebang bakar (slash and burning cultivation).
Cara-cara bercocok tanam seperti itu memang dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduk, bahkan dapat meningkatkan ketersediaan bahan pangan karena menciptakan suatu kesenggangan waktu yang pada gilirannya justru merangsang pertumbuhan penduduk dan mengembalikan kandungan zat hara pada tanah. Namun, apabila pertumbuhan penduduk sudah melampaui daya dukung dari cadangan pangan yang dapat disediakan, maka diperlukan cara-cara baru untuk meningkatkan perolehan makanan. Untuk daerah yang sesempit Jawa, dengan penduduk yang semakin padat, cara-cara meningkatkan hasil pangan dengan cara ekstensifikasi – atau membuka hutan menjadi lahan baru – sudah tidak memungkinkan.
Cara ekstensifikasi tidak saja terkendala oleh aspek lingkungan fisik belaka, namun juga secara sosial budaya. Apabila cara-cara itu dilakukan secara terus-menerus maka akan timbul konflik antar kelompok untuk memperebutkan lahan. Konflik ini kerapkali berlanjut menjadi perang. Situasi seperti ini perlu dihindarkan, dan rupanya memang dihindari oleh manusia sejak zaman prasejarah di Jawa.
Bagi mereka, beradaptasi adalah cara terbaik, sehingga mereka memilih proses intensifikasi dalam bercocok tanam. Sebagai akibat pilihan ini, maka manusia prasejarah di Jawa memilih untuk menetap, kemudian mengembangkan teknologi bercocok tanam yang lebih baik, serta menyusun organisasi sosial yang lebih teratur.

Kehadiran komunitas manusia yang hidup menetap dengan mengembangkan teknologi
bercocok tanam yang intensif di Jawa Timur terwakili antara lain oleh masyarakat megalitik yang antara lain meninggalkan bekas-bekas peninggalan di sekitar Bondowoso. Penelitian arkeologis di tempat itu telah dilakukan sejak awal ke 20 dan mengungkapkan keberadaan dari kelompok-kelompok masyarakat prasejarah yang memiliki susunan cukup kompleks.

Bukti-bukti adanya kehidupan prasejarah di wilayah itu dilaporkan pertama kali oleh Asisten
Residen Bondowoso, H. E. Steinmetz pada tahun 1898. Bangunan peninggalan masyarakat
megalitik itu berwujud bangunan dari batu-batuan yang besar, seperrti kubur batu yang oleh masyarakat setempat disebut pandhusa, peti kubur atau sarkopagus, batu-batu tegak (menhir) dan batu-batu pipih berlubang yang menyerupai dakon, lesung batu dan susunan batu bertonjol yang disebut kenong. Peninggalan megalitik ini tersebar cukup luas dan meliputi beberapa desa sekaligus! Terutama di Desa Kemuningan, Tlogosari, Gerahan, Meraan dan Pakauman. Luas sebarannya dapat memberikan gambaran betapa besar dan rumitnya komunitas yang dulu pernah tinggal di situ.

Kubur batu atau pandhusa, merupakan bangunan megalitik yang khas ditemukan di daerah ini. Bentuknya merupakan perpaduan antara peti kubur (sarkopagus) dan tumpukan batu. Bangunan ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian wadah dan tutup. Bagian wadah terbuat dari sejumlah lempengan batu yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai peti yang terbuka bagian atasnya. Pada salah satu sisi peti itu dibuat lubang yang menyerupai ambang pintu yang tepat di depannya diberi susunan batu sehingga membentuk suatu lorong kecil. Penutup pandhusa dibuat dari sebuah batu yang lebih besar, yang dibentuk serupa setengah bola yang lonjong, atau dibentuk agak persegi dengan bagian dasar lebih lebar sehingga menyerupai sebuah topi.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!