Peradaban Masyarakat Nusantara ( bagian 2 )

Artikel ini ada 8 bagian klik pada bagian yang ingin anda lihat
[-- satu --] | [-- dua --] | [-- tiga --] | [-- empat --]
[-- lima --] | [-- enam --] | [-- tujuh --] | [-- delapan --]
atau klik [--- bersambung ---] pada bagian paling bawah artikel untuk melihat artikel selanjutnya.




Kegiatan budi daya tanaman yang tertua di Jawa mungkin sekali berasal dari wilayah Jawa
Timur. Hal ini dapat dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis yang terdapat pada beberapa situs gua dan ceruk peneduh (rock-shelter) di daerah pegunungan kapur di wilayah itu. Temuan-temuan arkeologis itu kemudian dikenal dengan istilah: “budaya Sampung.” Nama Sampung diambil dari nama sebuah desa kecil yang terletak beberapa kilometer sebelah barat laut Ponorogo, tempat ditemukannya situs Gua Lawa yang sangat kaya akan peninggalan prasejarah. Situs gua ini mulai menarik perhatian para pakar arkeologi ketika pada tahun 1926, seorang arkeolog bernama L. J. C. van Es mendapat berita ditemukannya fosil-fosil binatang di gua itu. Ketika ia mengunjung gua tersebut, ia berhasil mendapatkan cukup banyak tulang, yang ternyata sebagian telah dipergunakan manusia purba untuk alat-alat mereka. Penggalian segera dilakukan, dan hasilnya
semakin menarik perhatian. Pada penggalian pertama, van Es menemukan lapisan budaya setebal 4 meter, yang mengandung sisa-sisa kegiatan manusia purba. Mulai tahun 1928, van Stein-Callenfels, ahli prasejarah yang terkenal ketika itu, mengambil alih penelitian di Gua Lawa hingga tahun 1931.
Penggalian van Stein-Callenfels di Gua Lawa tercatat sebagai penggalian sistematis pertama pada situs prasejarah di Jawa.

Rangkaian penelitian yang dilakukan selama itu ternyata mampu mengungkapkan adanya
lapisan-lapisan budaya di situs Gua Lawa di Sampung, namun batas antara lapisan-lapisan itu amat kabur dan sulit ditentukan dengan pasti. Lapisan teratas mengandung artefak dari masa sejarah – yaitu gerabah, pecahan kaca dan keramik dari Cina, alat-alat tembaga, perunggu, dan besi, serta mata uang Cina (kepĂ©ng). Pada lapisan di bawahnya terdapat pecahan gerabah, batu giling dan batu pelandas, alat logam, beberapa sudip dari tulang, manik-manik, serta beberapa beliung persegi.
Lapisan budaya yang paling bawah mengandung banyak alat-alat dari tulang dan tanduk, perhiasan dari kerang dan gigi binatang, batu giling dan pelandasnya, mata-panah dari batu dan serpihan batu.

Selain artefak, penggalian tersebut juga berhasil menemukan rangka-rangka manusia yang
dikuburkan dalam sikap terlipat. Kedua kakinya ditekuk sehingga pahanya menyentuh dada dan kedua tangannya disilangkan di atas dada. Di antara rangka itu terdapat kerangka seorang anak yang mengenakan kalung dari rangkaian kerang.

Ternyata temuan arkeologis seperti yang terdapat pada Gua Lawa di Sampung ditemukan juga di beberapa gua dan ceruk peneduh lain di Jawa Timur. Pada tahun 1936, temuan yang mirip dengan Sampung diperoleh dari penggalian von Koeningswald di sebuah ceruk peneduh pada Bukit Cantelan, dekat Punung. Temuan serupa juga dilaporkan van Es di Gua Kramat dan Gua Lawang, dekat Dander, Bojonegoro. Dari ujung paling timur Jawa, van Heekeren melaporkan adanya unsur-unsur Budaya Sampung pada sejumlah gua yang digalinya, yakni Gua Sodong dan Gua Marjan dekat Puger, serta Gua Lawa – yang disebut Gua Bekpuruh oleh penduduk setempat yang berbahasa Madura – dekat Pacalan, Situbondo. Sementara itu, sejumlah peneliti lain, seperti W. J. A. Willems dan J. H. Houbolt menemukan data arkeologi yang sama pada gua-gua di sekitar Semanding, Tuban. Dari laporan-laporan tersebut, untuk sementara dapat disimpulkan Budaya Sampung tersebar secara terbatas pada gua-gua di perbukitan kapur Jawa Timur.

Berdasarkan penelitian terhadap artefak dan ekofak yang ditinggalkan, termasuk rangka
manusianya, dapat diduga pendukung Budaya Sampung adalah masyarakat yang sudah cukup mapan. Mereka tidak saja mengandalkan perburuan dengan menggunakan matapanah batu yang bagus untuk menunjang kehidupannya, tetapi mungkin sekali mereka sudah mulai lebih banyak memanfaatkan sumber pangan dari tumbuh-tumbuhan. Dugaan ini dibuktikan dengan temuan sudip sudip dari tulang dan batu giling disertai pelandasnya.

Bentuk sudip dari tulang ini dapat dibagi dalam dua jenis: sudip pipih yang mirip sendok atau pisau, dan sudip tebal yang mirip tugal atau beliung persegi. Sudip yang pipih mungkin sekali dipakai untuk mengolah makanan, membersihkan kulit umbi-umbian, atau untuk mengambil (menyendok) bahan makanan dari atas batu pelandas.
Sudip tebal diduga digunakan untuk menggali tanah, sangat mungkin untuk mencari umbi-umbian bahan pangan, atau bisa jadi malah menjadi ujung tugal, yaitu alat pembuat lubang di tanah untuk ditanami biji atau tunas tanaman. Sudip tebal yang mirip beliung atau kapak persegi ini mungkin merupakan bentuk awal (prototip) dari beliung atau kapak persegi yang muncul pada masa kemudian. Beliung persegi dari batu biasanya digunakan untuk mengerjakan kayu atau sebagai alat bercocok tanam. Sementara batu giling dan pelandasnya dipakai mengolah bahan pangan dari tumbuh-tumbuhan dan menghaluskan bahan-bahan lainnya, seperti bahan pewarna.

Bukti lain yang dapat mendukung bahwa masyarakat pendukung Budaya Sampung banyak
mengandalkan kehidupan bercocok tanam, adalah pada organisasi sosialnya. Munculnya aktifitas bercocok tanam mengubah organisasi sosial masyarakat. Ketika masih berburu dan mengumpulkan serta meramu makanan, sifat masyarakatnya egalitarian; kedudukan seseorang akan ditentukan oleh prestasi selagi dia hidup. Namun, pada kehidupan bercocok tanam masyarakatnya berubah menjadi masyarakat bertingkat, yang memperhitungkan faktor keturunan dalam menetapkan kedudukan sosial seseorang. Masyarakat bertingkat muncul karena adanya kebutuhan akan pola penjadwalan, serta meningkatnya interaksi antar anggota kelompok, dan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.
Untuk mengetahui bentuk organisasi sosial masyarakat purba, dapat dilakukan antara lain dengan meneliti cara-cara penguburan manusianya. Data seperti itu terdapat pada situs-situs Budaya Sampung. Salah satu hal menarik adalah temuan penguburan anak-anak yang memakai kalung di lehernya. Padahal, orang dewasa yang dikuburkan justru tidak diberi bekal kubur yang bernilai. Ini menandakan masyarakat pendukung Budaya Sampung sudah tidak terlalu egaliter lagi.
Sebab, di dalam masyarakat yang egaliter, kedudukan seseorang ditentukan oleh prestasi yang diperolehnya, maka tentu untuk orang-orang yang masih muda, apalagi kanak-kanak, akan cenderung memiliki kedudukan yang rendah. Jadi, apabila ditemukan rangka anak-anak yang diberi bekal kubur lebih baik dari pada orang dewasa, maka bisa diduga masyarakat ketika itu telah mengenal jenjang sosial. Hal ini dapat menjadi petunjuk adanya kehidupan yang lebih mengandalkan pada perolehan makanan dari bercocok-tanam.

Sebenarnya tidak mengherankan jika pendukung Budaya Sampung lebih menggantungkan
hidup mereka pada cara bercocok tanam sederhana, karena lingkungan yang mereka pilih memang cocok untuk itu. Umumnya mereka memilih tempat bermukim di bukit-bukit kapur yang tidak jauh dari suatu dataran banjir atau lembah yang memiliki jaringan sungai. Wilayah seperti ini biasanya merupakan daerah yang subur dan aman. Subur dikarenakan cukup tersedia air dan tanah yang di lembah itu merupakan endapan banjir yang kaya zat hara. Aman dikatakan karena bukit-bukit kapur menyediakan tempat tinggal yang bebas banjir, dapat melindungi mereka serangan binatang buas dan serangan kelompok manusia lainnya. Apalagi, lingkungan di Jawa Timur adalah lingkungan berhutan tropis musiman.

Lingkungan ini merupakan ekosistem peralihan yang menyediakan bahan pangan beragam sepanjang tahun. Kondisi ini tentu saja membuat manusia betah tinggal lebih lama,
sehingga tidak terlalu sering berpindah-pindah (nomaden) lagi sehingga dapat mempelajari jenis-jenis tanaman yang dapat dibudidayakan. Oleh karena itu dugaan bahwa pendukung Budaya Sampung adalah masyarakat tertua di Jawa yang membudidayakan tanaman, memiliki dasar yang kuat.


[--- bersambung ---]

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!