Kampanye Negatif Kelapa Sawit Bisa Menghambat Produksi

JAKARTA - Kampanye negatif kelapa sawit yang dalam beberapa waktu terakhir kian marak dilakukan oleh LSM asing, dikhawatirkan bisa menghambat peningkatan produksi kelapa sawit di Indonesia. Padahal, produksi kelapa sawit Indonesia ditargetkan akan meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun kedepan.

bongkar muat kelapa sawit
Sementara untuk tahun ini, produksi kelapa sawit ditargetkan akan mencapai sekitar 22 juta ton. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan produksi tahun 2009 hanya 19,4 juta ton, yang terserap untuk pasar ekspor sebanyak 15 juta ton dan pasar domestik hanya 4,4 juta ton.

"Tapi, bagaimana mau meningkat dua kali lipat, sekarang saja sudah banyak dihujat dan dituduh. Jangan mau dibodohi begitu saja oleh orang asing," kata Direktur Produksi PTPN IV Balaman Tarigan di Jakarta, Rabu (26/5/2010)

Menurutnya, industri kelapa sawit harus dijaga dengan baik, dan jangan sampai punah.

"Jangan sampai momentum kelapa sawit Indonesia hilang karena hanya hujatan dan fitnah. Jangan sampai hilang seperti rempah-rempah dan rotan kita yang dulu hebat dan sekarang sudah tidak bangkit lagi. Jadi tolong ini dijaga," ucapnya.

Direktur Eksekutif GAPKI Fadhil Hasan menyatakan, ada kesengajaan yang dilakukan LSM asing untuk bisa menghambat industri sawit. LSM asing, kata dia, sangat agresif dalam meluncurkan berbagai gerakan yang bisa menghambat industri kelapa sawit Indonesia, dengan alasan kerusakan lingkungan.

"Mereka telah dimanfaatkan oleh industri minyak makanan lainnya yang posisinya terdesak oleh industri kelapa sawit," tegasnya.

Menurut Fadhil, hal tersebut kemungkinan besar dipicu oleh kurangnya komunikasi yang dilakukan oleh pengusaha kelapa sawit Indonesia dengan beberapa pihak, termasuk LSM mengenai aspek positif kelapa sawit Indonesia.

"Maka dari itu kami akan mendorong industri kelapa sawit lebih intensif untuk mengkomunikasikan hal itu," imbuhnya.

Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Kementerian Negara Lingkungan Hidup Antung Deddy mengatakan, citra dari pengelolaan kelapa sawit Indonesia selalu buruk, misalnya, kata dia, disebut menyebabkan kebakaran hutan dan menjadi emitor gas rumah kaca.

"Ada kebijakan di Indonesia tida memperbolehkan pembakaran hutan kecuali tidak lebih dari dua hektar (ha) dan ditanami tanaman spesifik yang tumbuh disitu,"paparnya.

Padahal, kata dia, Indonesia sudah berkomitmen untuk menurunkan gas rumah kaca sebesar 25 persen pada tahun 2020.

Antung menambahkan, kelapa sawit Indonesia sudah menguasai pasar dunia sebesar 44,7 persen, sementara Malaysia hanya 41,3 persen.

"Pantas apabila tidak ada yang setuju dengan pengembangan kelapa sawit di Indonesia," katanya.

Fadhil menjelaskan, pelaku usaha kelapa sawit Indonesia dan Malaysia telah membentuk wadah forum dunia usaha kelapa sawit.

"Sehingga kami susun program bidang komunikasil strategi dan komunikasi sustainability. Jadi, nanti antara produsen punya persepsi sama untuk atasi isu seperti.

sumber : http://hileud.com

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!