"Istana Negara Dinilai Hina Wartawan"

JAKARTA - Pengamat Politik dari Universitas Paramadhina, Yudi Latief menilai langkah Istana melarang para wartawan membawa ransel ke dalam kawasan istana dikaitkan dengan tertangkapnya seorang wartawan yang diduga anggota jaringan teroris, bisa dikatakan kriminalisasi dan penghinaan terhadap profesi wartawan.

Yudi justru mempertanyakan mengapa hanya kalangan wartawan saja yang mendapatkan perlakuan seperti itu, sementara anggota jaringan teroris berasal dari banyak profesi.

“Saya merasa ini sudah mengkriminalkan para awak media. Memangnya anggota jaringan teroris cuma wartawan sehingga hanya wartawan yang diperlakukan seperti itu? Jaringan teroris itu juga ada tokoh agama, dosen dan berbagai latar belakang profesi. Apa mereka juga tidak boleh membawa alat-alat pribadinya jika melakukan kegiatan istana? Ini kan penghinaan dengan mengeneralisir masalah yang ada,” ujar Yudi kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/4).

Menurut Yudi, sangat lucu jika istana yang memiliki perangkat keamanan paling ketat sampai perlu memberlakukan hal itu. Istana, lanjutnya, penjagaan keamanannya paling ketat, ada paspampres, ada metal detector canggih, ada intelijen.

"Masa sampai perlu memberlakukan hal itu. Awak media sekarang dituntut untuk bekerja cepat dan mereka terbiasa membawa berbagai peralatan untuk menunjang kerja mereka dan memerlukan ransel agar mereka bisa membawa semuanya,” ungkap Yudi.

Lebih lanjut, Yudi melihat langkah istana itu terlalu berlebihan. Kesalahan seseorang, tidak bisa diasosiasikan sebagai kesalahan profesi.

“Kita kan pernah melihat langsung bagaimana seorang wartawan melemparkan sepatunya kepada seorang George Bush yang saat itu menjabat sebagai presiden. Hal itu kan tidak lantas membuat secret service atau pasukan pengamanan presiden AS mengambil langkah kepada wartawan di White House tidak boleh lagi menggunakan sepatu,” jelas Yudi.

Lebih lanjut menurut Yudi langkah itu juga memperlihatkan betapa gawatnya kondisi saat ini, yang tentu saja dapat berdampak secara psikologis kepada masyarakat umum. “Kalau presiden saja khawatir, bagaimana dengan rakyat? Apa rakyat tidak menjadi target dari para teroris? Selama ini kan justru rakyat yang menjadi korban teroris,” tukasnya.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!