GAPKI : Optimis produksi CPO 40,25 Juta Ton (2020)

MEDAN (Berita): Pengusaha kelapa sawit khususnya yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara optimis produktivitas sawit ke depan bisa melampaui lintas batas produksi sehingga target minyak sawit (CPO) tahun 2020 sebesar 40,25 juta dapat tercapai.

Ketua Gapki Sumut Balaman Tarigan mengatakan hal itu kepada wartawan di kantor Gapki Komplek Tomang Elok Medan kemarin sehubungan dengan semakin dekatnya perayaan 100 tahun kelapa sawit komersial di Indonesia bertema ‘Sawit Sahabat Rakyat’. Saat itu, dia didampingi sekretaris Timbas P Ginting dan bendahara Laksamana Adiyaksa.

Balaman menjelaskan perayaan 100 tahun kelapa sawit itu berlangsung 28-29 Maret 2011 di Tiara Convention Center Medan yang akan dihadiri sejumlah negara terutama produsen kelapa sawit dunia. Juga dijadwalkan hadir Menko Perekonomian, Mendag, Mentan dan Menneg BUMN. Di samping itu, para pekebun, lembaga pendukung, regulator, instansi pemeritah, penyedia jasa barang dan bisnis kelapa sawit lainnya.

“Target perayaan tersebut bagaimana mendorong pembangunan kelapa sawit. Salah satunya adalah program lintas batas produktiftas,” katanya.

Balaman mengemukakan lewat acara yang dirangkum dalam konferensi dan pameran seputar industri kelapa sawit itu, Gapki akan mendesak Menteri Pertanian membuat program lintas batas produksi yakni skema produktifitas 3526.

Artinya, jelas dia, produksi sawit dapat petani ditingkatkan menjadi 35 ton per hektar per tahun tandan buah segar (TBS) dengan randemen (kadar minyak) 26 persen.

Menurutnya dengan tingkat produktivitas TBS petani yang sata ini hanya 18 ton per hektar per tahun dan randemen rata-rata 20-22 persen, maka ke depan diharapkan produktivitasnya semakin ditingkatkan lewat hadirnya program itu. Apalagi seiring rencana peningkatan produksi CPO dari saat ini sekitar 23 juta ton hingga 40,25 juta ton di tahun 2020 mendatang.

Ia menambahkan skema 3526 merupakan sesuatu yang mungkin terjadi jika diusahakan dengan baik, tinggal bagaimana kita mau melaksanakannya. “Dengan target lima tahun, program pencapaian tahun 2016 bisa diwujudkan. Apalagi ini sesuai dengan tema kita ‘Sawit Sahabat Rakyat’,” terang Balaman.

Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Anizar Simanjuntak mengatakan, petani siap mendukung rencana program 3526. Hanya saja, perlu diperhatikan apakah petani mandiri, benar-benar mampu mempersiapkan diri.

Menurut Anizar, kalau kita perhatikan saat ini terdapat perbedaan produksi dan randemen antara petani mandiri dan petani plasma. Jika mandiri hanya mampu menghasilkan produksi TBS 18 ton per hektar dengan tingkat randemen berkisar 20 persen, sedangkan petani plasma produksinya mencapai 22 ton lebih TBS dengan randemen di atas 22 persen.

“Ini artinya, jika ingin mewujudkan itu, petani mesti benar-benar didukung,” katanya.

Dukungan buat petani, tutur Anizar, dapat dilakukan dalam bentuk mempermudah pengadaan benih berkualitas dengan harga terjangkau, pembekalan teknologi bercocok tanam dan kemudahan akses mendapatkan pupuk.

Data Apkasindo, total luas areal lahan perkebunan kelapa sawit nasional, perusahaan besar nasional (PBN) memiliki 632.485 ha (7 persen), perkebunan besar swasta nasional (PBSN) menguasai 4,52 juta ha (53 persen) dan perkebunan rakyat seluas 3,26 juta hektar (38,7 persen).

sumber : http://hileud.com

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!